Revolusi 2.0 dan Gerakan 500ribu kader PKS di Social Media

Social media (socmed) merupakan fenomena revolusi teknologi di era saat ini. Banyak perubahan tatanan sosial di berbagai belahan dunia berawal dari gerakan yang dibangun dari social media. Tengok saja revolusi yang terjadi di dunia Arab, berawal dari obrolan di media twitter dan facebook bisa meruntuhkan rezim-rezim arab yang atoritarian. Socmed membangun suatu era keterbukaan yang masih belum dapat di “steer” oleh-oleh pihak-pihak tertentu. Karena di social media setiap orang adalah sumber berita, sumber pemikiran yang sekaigus juga pemirsanya dan Pengamatnya. Interaksi antar pemikiran akan membangun suatu pemikiran yang terbuka, yang berkembang dari kritik dan otokritik. Jadi tidak heran jika pemikiran di dunia arab yang begitu rigid dengan dogma agama yang selama ini dipegang oleh para ulama dapat di “goyang” oleh cuap-cuap para pengguna internet di socmed. Perbenturan pemikiran dapat mendekonstruksi doktrinasi yang sudah menjadi “britle” seperti pemahaman Agama yg dipaksakan menurut kehendak para Ulama di lingkaran kekuasaan di Arab.

Di Indonesia socmed juga menjadi suatu kekuatan tersendiri di era Demokrasi dan keterbukaan bangsa ini. Pemerintah berkuasa tidak dapat mengabaikan suara-suara yang berkembang di socmed. Hal ini yang saat ini dilirik oleh PKS, dengan rasa percaya diri sebagai partai yang dapat diterima oleh kalangan urban, PKS baru-baru ini meluncurkan gerakan 500 ribu kader di Facebook dan Twitter. Hal ini menunjukkan kalau PKS menyadari kekuatan socmed di masa sekarang.  Dengan 500ribu kader di socmed PKS akan dapat dengan membuat dukungan bagi gerakan gerakan “cause” di fitur Facebook. Di twitter mereka dapat membuat trending topic setiap saat. Para kader ini secara terorganisir dapat membangun topik-topik diskusi di Facebook dan Twitter.

PKS merupakan organisasi yang notabene rigid dalam ideologinya. Masuk ke dalam ruang diskusi di socmed ini tentu saja bukan tanpa resiko, alih-alih bisa bisa membangun opini di massa socmed, PKS juga harus siap ter-infiltrasi ideologinya akibat benturan-benturan pemikiran yang terjadi. PKS yang terbiasa dengan pola pemikiran taklid pada ide-ide yang ditawarkan oleh para pemimpinnya harusnya menyadari dengan menerjunkan kader-kadernya di social media berarti harus bersiap untuk merangsang anterior cingulates menjadi lebih aktif (seperti yang dilansir University College London kaum konservative memiliki amygdala, bagian otak yang berkaitan dengan emosi, yang lebih tebal, namun anterior cingulates, bagian tengah otaknya, lebih tipis). Dengan kata lain, interaksi para kader PKS dengan pemikiran pemikiran di social media tentu akan membangun kekritisan di antara kader-kader PKS tersebut terhadap ideologi PKS itu sendiri. PKS mungkin perlu membangun kegiatan-kegiatan yang merekonstruksi ideologinya secara berkala setelah mereka terjun di socmed. Dan pertanyaannya, bagaimana PKS akan menjaga Ideologi kolektif para kader yang mereka terjunkan ke medan pertempuran di era Revolusi 2.0 saat ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s