Al-quran yang Sempurna dan Kita yang jauh dari Sempurna

Sayyidina Ali ra pernah berkata ” Al-quran itu adalah Kitab yang Sempurna, namun kesempurnaannya terletak dipundak pembacanya”. Hal ini disampaikan ketika beliau menjawab protes dari sebagian pendukungnya karena memberikan takhim atau maaf kepada Muawiyyah. Menurut mereka berdasarkan Al-quran sudah jelas mengatakan kalau seharusnya Muawiyyah harus ditumpas dan tidak ada yang pantas selain hukuman mati baginya. Bukankah Ali ra juga sangat mengetahui kalau Al-quran adalah kitab yang sempurna? Seharusnya tidak ada lagi keraguan untuk itu. Alih-alih memberikan hukuman, Ali ra, sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, malah memberikan maaf bagi Muawiyyah.

Pernyataan Ali ra yang mengatakan Al-quran adalah kitab yang sempurna namun kesempurnaannya tersebut terletak dipundak pembacanya ini menarik. Hal ini juga menunjukkan keluasan ilmu dan cemerlangnya pemikiran sang Khalifah yang juga disebut  oleh Rasulullah SAW sebagai “Gerbang Ilmu” tersebut. Al-quran memanglah sempurna, namun kita yang memahaminya tidak sempurna. Artinya kita perlu mengakui akan ada kesalahan bagi kita sebagai manusia untuk memahaminya. Ya, kita manusia yang memiliki keterbatasan dalam memahami banyak hal termasuk Al-quran.

Mengklaim bahwa kita benar hanya karena hal tersebut ada dalam dalil Al-quran sepertinya melupakan bahwa dalil tersebut kita pahami berdasarkan pemikiran kita yang terbatas. Apalagi merasa berhak menghakimi orang lain berdasarkan interpretasi kita terhadap dalil tersebut. Karena meskipun hal tersebut kita nyatakan sudah jelas apakah tidak ada kemungkinan kalau kita juga salah dalam menafsirkan maksud dari ayat tersebut?

Hal ini tentu saja akan diperburuk ketika kita merasa berhak untuk menghakimi karena ada seseorang atau sekelompok kita anggap telah sesat atau kafir. Bahkan Rasulullah SAW pernah mengingatkan agar kita tidak mudah menyatakan seseroang kafir, karena jika hal tersebut tidak benar, maka pernyataan tersebut akan berbalik kepada kita. Nah loh? Hanya karena kita memandang pemahaman orang lain tidak sesuai dengan kita, lantas kita merasa yang paling tau dan mencap mereka kafir dengan mudahnya. Padahal kita hanya manusia yang tidak sempurna yang mungkin saja salah dalam memahami maksud suatu ayat ataupun hadith? Entahlah, mungkin juga tulisan ini penuhh dengan banyak kesalahan. Namun saya menolak untuk mengkafirkan siapapun yang tidak sepakat dengan tulisan ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s