Toleransi, Agama dan Kecerdasan

Hampir satu abad terakhir para peneliti mencoba menemukan korelasi ke-religius-an (religiosity) dengan kecerdasan (intelligence). Berbagai penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh tingkat kecerdasan terhadap tingkat religiosity seseorang. Pengujian dilakukan pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat dengan berbagai level pendidikan dan latar belakang. Secara umum, studi-studi tersebut menunjukkan hubungan negatif (negative correlation) antara tingkat kecerdasan dan ke-religius-an. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat kecerdasan (IQ) seseorang, maka tingkat religiosity-nya akan semakin rendah.

Kita bisa membaca beberapa publikasi mutakhir yang meneliti hubungan inteligence-religiosity ini. Studi yang dilakukan oleh Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski misalnya [1]. Studi ini menguji korelasi intelligence dan religiosity antar dua orang saudara kandung yang dibesarkan dalam keluarga yang sama.

Ganzach dan Gotlibovski menemukan tingkat inteligensia (yang diukur berdasarkan IQ) akan berbanding terbalik dengan religiosity. Maka dalam konteks ini, seorang dengan IQ tinggi akan cenderung tidak religius dibandingkan saudaranya yang memiliki IQ lebih rendah. Meskipun mereka sama-sama dibesarkan dalam pola didik keluarga dengan latar belakang sangat religius.

Studi ini juga dikembangkan dengan menguji hubungan kecerdasan-religiusitas terhadap tingkat pendidikan [2]. Menariknya, hasil studi ini menunjukkan tingkat pendidikan tidak memainkan peran penting dalam mempengaruhi tingkat religiusitas sesorang. Karena tidak ada pola yang konsisten ketika tingkat religiusitas dibandingkan dengan tingkat pendidikannya. Bahkan jika dipisahkan berdasarkan asal keluarga dengan latar belakang religius yang kuat dan yang tidak.

Anak yang kurang cerdas meskipun mendapatkan pendidikan tinggi tetap saja akan menjadi individu religius ketika memiliki latar belakang religius. Sebaliknya, anak cerdas akan tumbuh menjadi individu yang kurang religius atau religiusitas yang rendah baik ia berpendidikan rendah dan dari latar belakang keluarga yang sangat religius. Artinya, kecerdasan akan memberikan dampak lebih signifikan terhadap religiosity. Pada saat yang sama, studi tersebut juga menunjukkan tingkat pendidikan tidak menggambarkan tingkat kecerdasan seseorang.

Publikasi lain yang juga tidak kalah menarik adalah dari Miron Zuckerman et. al yang melakukan meta analisis terhadap penelitian-penelitian terkait untuk hubungan kecerdasan dan religiosity [3]. Dalam publikasinya, Zuckerman et. al. mengevaluasi hasil studi-studi mengenai hubungan inteligence-religiosity. Studi tersebut menunjukkan beberapa kesalahan dalam mem-parameterisasi-kan tingkat kecerdasan.

Salah satu contohnya adalah studi-studi yang mengukur tingkat kecerdasan melalui GPA atau IPK. Menurut data merekan (Zuckerman et. al), dalam pengujian terhadap IPK mahasiswa diperguruan tinggi, IPK tidak menggambarkan tingkat IQ seseorang. Kesalahan yang sama dengan membandingkan kecerdasan (IQ) dengan tingkat pendidikan.

Banyak penelitian serupa yang kurang lebih memberikan hasil yang sama mengenai hubungan kecerdasan dan religiusitas. Baik yang dilakukan berdasarkan etnik tertentu seperti Helmuth Nyborg [4] maupun kelompok umur tertentu seperti  [5]. Peneliti-peneliti tersebut menemukan korelasi yang sama antara kecerdasan dan religiusitas. Semakin tinggi kecerdasan sesorang, maka akan semakin rendah tingkat ke-religius-an sesorang tersebut.

Para peniliti ini sepakat, setidak-tidaknya terdapat tiga faktor yang dipercaya melandasi korelasi negatif antara kecerdasan dan tingkat ke-religius-an (inteligence-religiosity) tersebut. Pertama, orang-orang cerdas memiliki kecenderungan menolak pemahaman dogmatis yang biasanya ada pada pemahaman agama.

Kedua, orang-orang cerdas memiliki kecenderungan untuk berpikir secara analitik sebagai lawan dari sikap intuitif yang mendasari kepercayaan terhadap agama. Dan yang ketiga, fungsi agama sebagai pengendalian diri, peningkatan kemampuan diri (self-enhancement) dan perasaan aman (secure attachment) dapat diberikan oleh kecerdasan. Sehingga orang-orang cerdas merasa tidak terlalu memerlukan bantuan untuk itu.

Disisi lainnya, kepercayaan terhadap agama cenderung terjadi secara intuitive. Sesorang dengan tingkat kecerdasan yang rendah akan cenderung lebih mudah menerima begitu saja semua ajaran agama yang ia terima. Karena mereka akan kesulitan berpikir kritis terhadap ajaran agama yang ia terima, karena itu mendorong mereka untuk keluar dari pola intuitif-nya.

Mereka cenderung tidak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan lain ajaran tersebut. Lebih jauh lagi, mereka juga akan sulit menerima antithesis dari thesis yang mereka percaya. Sehingga mereka tidak pernah menggerakkan thesis nya menjadi synthesis baru. Maka agama yang bersifat literally atau diterima begitu saja dengan berlindung dibalik kata “iman” akan jauh lebih mudah bagi mereka.

Lalu apakah artinya orang-orang cerdas bisa dipastikan tidak akan taat beragama atau malah cenderung tidak percaya agama? Sementara jika menengok sejarah beberapa daftar ilmuwan besar, kita bisa menemukan beberapa ilmuwan besar yang juga seorang penganut agama yang taat.

Blaise Pascal misalnya, adalah seorang matematikawan dengan sumbangsih besar dengan penemuan kalkulator analog yang juga seorang biarawan. Immanuel Kant, salah satau filsuf dengan karya-karyanya berpengaruh juga merupakan orang yang taat beragama. Tentu saja kita harus menerima kalau para ilmuwan tersebut memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.

Dalam sejarah Islam kita juga menemukan beberapa nama-nama ilmuwan yang juga dikenal sebagai muslim yang taat. Fakhruddin Al-Razi misalnya, adalah seorang fisikawan dan ahli kima (alchemist) yang memberikan banyak sumbangsih bagi pengetahuan modern saat ini. Salah satu sumbangan pemikiran Al-Razi yang paling terkenal adalah kritiknya terhadap model geosentris Ptolemy yang menyatakan bumi sebagai pusat dari alam semesta. Bagi Al-Razi, bumi (world) bukanlah pusat alam semesta, melainkan bagian dari konstelasi benda-benda langit. Lebih jauh lagi, alih-alih hanya satu bumi, Al-Razi juga berpendapat bahwa terdapat banyak world di alam semesta. Uniknya lagi, beliau mengungkapkan ide ini berdasarkan Al-Quran.

Demikian juga dengan Ibn al-Haytham, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan optik, astronomi dan matematika. Sama halnya dengan Al-Razi, Al-Haytham mempelajari dan akhirnya mengkritisi teori Optik Ptolemy. Al-Haytham juga mempelajari dan mengembangkan teorema geometri Euclid dan memformulasikan Lambert quadrilateral. Selain seorang Ilmuwan dengan banyak kontribusi terhadap perkembangan pengetahuan, al-Haytham juga merupakan seorang muslim yang taat.

Berdasarkan fakta tersebut, tentu saja kita bisa belihat ketidak konsistenan dengan hasil penelitian mutakhir yang menunjukan korelasi negatif antara religiusitas dan kecerdasan. Maka, mungkin saja kita perlu mendapatkan penjelasan lebih jauh mengenai hubungan inteligence dan religiosity ini. Pertanyaannya, bagaimana implementasi pola pikir intuitif ini bisa terjadi dalam sikap beragama? Apakah memang benar rasionalitas yang menjadi dasar berpikir analitik adalah sesuatu yang asing bagi pemahaman agama? Meninjau sejarah Mu’tazilah dan Ash’ariah dalam peradaban Islam dapat membantu kita memahami hal ini.

Kelompok Mu’tazilah pada awalnya adalah kelompok yang mengambil sikap netral pada masa perpecahan karena terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan dan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini kemudian berkembang pesat di era kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa ini, dunia Islam melalui kelompok Mu’tazilah begitu terbuka terhadap pengetahuan dari manapun.

Mereka mengkaji secara serius dari teori Euclid hingga Phytagoras, mereka mencari jawaban-jawaban terhadap pertanyaan logis mengenai ajaran Agama Islam dari filsafat Helenistic hingga filsafat Hindu. Sehingga tidak jarang juga mereka disebut sebagai free thinker atau kelompok liberal. Implikasi dari sikap ini, Peradaban Islam kemudian berkembang secara pesat. Hal ini tentu saja disebabkan wilayah tersebut menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan. Seperti yang terjatat dalam sejarah, pada masa ini ketika Eropa dalam era kegelapan, dunia Islam mengalami era ke-emasan.

Dengan menggunakan dasar logika yang mereka dapatkan dari filsafat-filsafat Henelistic, creation ex-nihilo, mereka mengembangkan konsep Tauhid dimana konsep Tuhan yang abadi sabagai satu dan kesatuan yang absolut dan tidak punya bagian terpisah. Sehingga, apapun yang menjadi bagian dari Tuhan tidak dapat dimusnahkan. Maka tidak mungkin Al-Quran adalah kata-kata dari Allah SWT karena ia akan menjadi bagian dari Tuhan yang abadi. Implikasinya, Mu’tazilah percaya bahwa Al-Quran adalah ciptaan (makhluk) Allah SWT sehingga ia tidak kekal sebagaimana Allah SWT.

Selain itu, Mu’tazilah juga mempercayai konsep surga dan neraka yang dibangun dari proses logis yang kurang lebih mirip. Tuhan menginginkan yang terbaik bagi manusia, namun free-will lah yang menyebabkan terjadinya kejahatan. Maka Tuhan akan memberikan ganjaran bagi mereka yang berbuat kebaikan dan menghukum siapa saja yang berbuat kejahatan.

Pada era kekhalifaan Abbasiyah dibawah Al-maʾmūn Ibn Ar-rashīd pada tahun 827M menetapkan paham tersebut sebagai dogma negara. Pada tahun 830M kekhalifahan ini juga menetapkan minha (inquisisi) yang menghukum mereka yang berbeda pendapat dengan dogma tersebut. Salah satu korbannya adalah Imam Ahmad ibnu Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.

Kemudian sejarah mencatat sebuah perdebatan antara Abu Al Hasan al Ashary dengan Al-Jubai, gurunya yang juga pemuka Mu’tazilah. Dalam perdebatannya dengan Al-Jubai, Ashary menunjukan jika nalar memiliki kelemahan, karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan. Maka seharusnya kita memberikan ruang dan mengakui keterbatasan tersebut.

Perlu dicatat disini, Al-Ashary mengkritisi Al-Jubai juga menggunakan nalar, bukan dengan hujjah atau pendapat yang secara kaku merujuk pada ayat-ayat tertentu. Artinya disini kita bisa melihat, yang dikritisi oleh Al-Ashary adalah kekakuan paham Mu’tazilah yang meskipun awalnya dibangun dari proses berpikir kritis. Pengikut Al Ashary ini kemudian menyebut diri mereka sebagai Ash’ariah. Terkadang disebut juga sebagai kelompok tradisionalis yang menempatkan Al-Quran, Sunnah dan Hadith sebagai pedoman utama.

Dalam konteks pola pikir analitik dan intuitif yang mendasari kepercayaan, kita tentu saja dengan mudah melihat kalau Mu’tazilah bertransformasi yang awalnya membangun pemahaman dengan keterbukaan pikiran menjadi kelompok yang anti terhadap perbedaan atau berpikiran tertutup. Mekanisme berpikir kelompok Mu’tazilah yang awalnya mengikuti pola analitik berubah menjadi intuitif. Karena mereka tidak memberikan ruang untuk orang lain berbeda pendapat dengan mereka. Ketika menggunakan inquisisi negara untuk memaksakan kebenaran versi mereka, Mu’tazilah bertansformasi dari kelompok yang awalnya berlandaskan logis menjadi dogmatis.

Sebaliknya, Ash’ariah meskipun kerap disebut bagai aliran tradisionalis, membangun argumentasinya berdasarkan alur berpikir secara analitik. Al-Ashary juga menggunakan logika dalam menyusun argumentasinya. Dalam perdebatannya dengan Al-Jubai, Al-Ashary menggunakan argumentasi argumentasi dialog antara tiga orang yang meninggal, (orang yang saleh, orang jahat dan anak kecil).

Al-Ashary menantang logika Mu’tazilah yang diwakili oleh Al-Jubai, bagaimana konsep punishment and reward bisa berlaku secara adil pada tiga orang tersebut. Karena apapun ganjaran bagi masing-masing orang tersebut menjadi tidak adil. Sehingga tidak sesuai dengan Sifat Allah. Argumentasi Al-Ash’ary ini menunjukkan alur bepikirnya yang analitis. Sehingga Ash’ariah menjadi menarik bagi para pemikir.

Maka tidak heran kita mengenal Al-Razi dan Al-Haytham menjadi pengikut aliran Ash’ariah ini. Selain berpedoman scriptures Islam, kelompok As’ariah ini tetap terbuka untuk mempelajari secara serius ilmu-ilmu filsafat dari tradisi Helenisme, Hinduisme hingga Judaisme. Maka tidak heran dalam banyak tulisan mereka kita menemukan referensi dari Phytagoras, Euclid, dan Aristoteles.

Meskipun kemudian dalam perkembangannya, kelompok ini juga mengalami perubahan yang kurang lebih sama seperti Mu’tazilah. Aliran Ash’ariah ataupun turunannya, kemudian mengharamkan logika dalam memahami Agama. Kondisi ini yang kemudian kita ketahui membawa kemunduran bagi peradaban Islam hingga sekarang.

Berdasarkan konteks tersebut, kita bisa melihat kalau latar belakang intelligence-religiosity menjadi tidak relevan dalam kasus Ash’ariah-Mu’tazilah ini. Mu’tazilah yang mengedepankan logika bisa juga menjadi dogmatis terhadap pemahamannya. Sebaliknya, Ash’ariah yang tradisionalis memegang teguh prinsip agama, juga bisa mengikuti pola pikir analitik dan memberi ruang logika untuk menemukan penjelasan.

Orang cerdas tidak melulu tidak percaya terhadap agama. Mereka hanya tidak mau mengikuti aturan agama yang kaku, yang tidak memberi ruang untuk melakukan pola pikir analytic. Mereka yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi akhirnya sering dituduh tidak beriman, karena pola berpikir logis mereka kerap menjadi serangan bagi keyakinan keagamaan.

Hal ini bisa kita lihat dari Newton yang akhirnya dituduh “tidak beriman” karena keyakinan mereka tidak sesuai dengan ajaran baku yang dikeluarkan oleh otoritas agama yang berkuasa pada masa tersebut. Padahal sebelumnya, Newton merupakan anggota terhormat dari college “the holy undivided trinity” di Cambridge yang merupakan tempat pendidikan paderi bagi gereja pada masa itu.

Newton dikeluarkan dari fellow college dengan tuduhan bid’ah setelah secara terang-terangan mempertanyakan posisi Yesus dalam Trinitas. Newton tidak bisa untuk tidak mempertanyakan hal-hal yang menurutnya bertentangan dengan logikanya. Maka berdasarkan hal ini, Newton bukan tidak percaya terhadap agama, namun ia menolak pemahaman agama yang kaku dan dogmatis.

Bahkan lebih jauh lagi, hal yang sama juga bisa diuji pada ilmuwan-ilmuwan besar yang dikenal sebagai agnostic atau terlihat tidak terlalu peduli pada agama. Albert Einstein salah satu contohnya, dalam salah satu wawancara yang dimuat dalam bukunya George Sylvester Viereck, Glimpses of the Great, pada tahun 1930. Einstein menyatakan ia bukanlah seorang atheist juga bukan seorang pantheisme (dugaan ini dikemukakan karena ia mengagumi Baruch Spinoza, seorang filsuf yang meyakini kesatuan realitas dan ketuhanan).

Einstein mengilustrasikan kepercayaannya terhadap Divine Being (Wujud Tuhan) sebagai anak kecil yang masuk dalam sebuah perpustakaan yang penuh dengan buku. Anak kecil tersebut memahami betul kalau buku-buku tersebut ada yang menulis. Maka dalam konteks ini, agak sulit kita mengatakan kalau Einstein tidak religius atau kurang religius.

Jika digali bagaimana studi-studi mutakhir yang melihat hubungan negatif antara kecerdasan dan religiosity melakukan parameterisasi. Kita juga kembali menemukan penjelasan terhadap ketidak konsistenan tersebut. Salah satu contohnya yang bisa ditemui dalam publikasi Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski, Instrumen yang digunakan dalam mengukur tingkat religiosity oleh menunjukkan seseorang yang memiliki keyakinan jika Agama harus dipercayai “excactly” sebagaimana tertulis atau tidak memberikan ruang untuk mempertanyakan keyakinan tersebut.

Dengan definisi religius seperti itu, tentu saja kita akan kesulitan melihat orang yang memiliki kecerdasan tinggi sekaligus adalah seorang yang religius. Karena keterbukaan pikiran adalah salah satu indikasi kecerdasan. Sesorang dengan tingkat kecerdasan tinggi akan tertarik dengan benturan pemikiran. Pada saat yang sama, orang-orang dengan tingkat kecerdasan tinggi juga tidak menyukai konsep agama yang dogmatis.

Dengan demikian, kita bisa sedikit merevisi tingkat religiusitas ini dengan tingkat intoleransi/toleransi. Semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin toleran sikapnya dalam beragama, sebaliknya semakin rendah kecerdasan seseorang tersebut maka semakin tinggi kecenderungannya bersikap intoleran.

Memahami korelasi kecerdasan dan sikap intoleran ini, kita juga bisa mendapatkan penjelasan mengenai fenomena kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Agama. Seperti yang sama-sama kita ketahui, Agama kerap menjadi alasan yang cukup kuat untuk seseorang membunuh. Karena mereka percaya, membunuh orang lain adalah jalan pintas menuju surga.

Pada umumnya keyakinan ini mereka dapatkan karena hasutan dari seseorang yang ‘so called‘ rohaniawan ataupun pemuka agama. Para pelaku bom bunuh diri sering kali adalah pemuda tanggung dengan pemahaman agama terbatas yang diterima secara letterlijk.

Sederhananya, tingkat kecerdasan yang rendah ini yang membuat kaum fundamentalis ini kesulitan mentoleransi perbedaan, karena hal tersebut akan membuat mereka merasa insecure. Mereka menyukai keseragaman karena hal ini membuat mereka tidak perlu menghadapi benturan pemikiran.

Orang-orang dengan kecerdasan rendah ini juga akan mudah sekali curiga kalau kelompok lain diluar agamanya memiliki niat buruk. Maka tidak heran jika kita melihat mereka cenderung menyukai segala teori konspirasi untuk melegitimasi kecurigaannya. Mereka juga akan sangat mudah terpancing secara emosional karena marah adalah salah satu indikasi rendahnya tingkat kecerdasan mereka.

Sebaliknya, orang-orang dengan kecerdasan tinggi akan cenderung memiliki sikap toleran. Karena mereka memahami perkembangan pemikiran membutuhkan tantangan (challenge) dan pengujian. Setiap pemikiran harus mengalami pengujian terus-menerus hingga ia bisa dikatakan benar. Mereka menjadikan agama lebih sebagai ruang private untuk mengenal Tuhan (divine being) dari pada identitas. Sehingga tidak mudah merasa terhina ketika ada yang mengkritisi ajaran agamanya.

Terkait dengan hasil penelitian Ganzach et. al yang menunjukan tidak ada korelasi antara tingkat pendidikan, latar belakang keluarga dan lingkungan terhadap religiusitas. Maka kita tidak perlu heran ada yang berpendidikan tinggi namun menjadi tidak toleran. Atau juga ada mereka yang tumbuh dan berkecimpung dilingkungan yang sangat tidak religius namun terkait sikap dalam beragama lebih cenderung tidak toleran. Hal ini semata-meata adalah karena faktor kecerdasan mereka yang rendah.

Referensi

[1] Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski (2013), “Intelligence and religiosity: Within families and over time“. Intelligence 41 (2013) 546–552

[2] Yoav Ganzach, Shmuel Ellis dan Chemi Gotlibovski (2013) “On intelligence education and religious beliefs” Intelligence 41 (2013) 121–128

[3] Miron Zuckerman, Jordan Silberman dan Judith A. Hall (2013). “The Relation Between Intelligence and Religiosity: A Meta-Analysis and Some Proposed Explanations“. Personality and Social Psychology Review 17(4) 325–354 © 2013 sagepub.com/journalsPermissions.nav DOI: 10.1177/1088868313497266 pspr.sagepub.com

[4] Helmuth Nyborg (2009), “The intelligence–religiosity nexus: A representative study of white adolescent Americans”, Intelligence 37 (2009) 81–93

[5]  (1998),  “The relationship between intelligence and religiosity among 15–16-year-olds”, Journal of Mental Health, Religion & Culture,

Advertisements

4 Comments

  1. Saya pikir ada kesenjangan dalam memahami religius dari laporan penelitian tersebut. Jika kita mampu membedakan antara Religius dengan Spirtualis maka, hasil riset tersebut akan tetap konsisten. Yaitu bahwa semakin cerdas seseorang akan semain tidak religius. Nahh berbeser menjadi semakin tidak religius bukanlah berarti semakin meninggalkan agama. Karena ada 2 pilihan (bukan hanya 1 pilihan), yaitu pilihan bahwa semakin cerdas seseorang maka akan semakin spiritualis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s