Category Archives: Theologist

Agama adalah salah satu topik menarik untk di diskusikan..ya..didiskusikan dnegan kepala sejuk..mengajak setiap orang untuk bisa mendiskusikannya dlm ranah ilmiah adalah hal yg menyenangkan

Toleransi, Agama dan Kecerdasan

Hampir satu abad terakhir para peneliti mencoba menemukan korelasi ke-religius-an (religiosity) dengan kecerdasan (intelligence). Berbagai penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh tingkat kecerdasan terhadap tingkat religiosity seseorang. Pengujian dilakukan pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat dengan berbagai level pendidikan dan latar belakang. Secara umum, studi-studi tersebut menunjukkan hubungan negatif (negative correlation) antara tingkat kecerdasan dan ke-religius-an. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat kecerdasan (IQ) seseorang, maka tingkat religiosity-nya akan semakin rendah.

Kita bisa membaca beberapa publikasi mutakhir yang meneliti hubungan inteligence-religiosity ini. Studi yang dilakukan oleh Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski misalnya [1]. Studi ini menguji korelasi intelligence dan religiosity antar dua orang saudara kandung yang dibesarkan dalam keluarga yang sama.

Ganzach dan Gotlibovski menemukan tingkat inteligensia (yang diukur berdasarkan IQ) akan berbanding terbalik dengan religiosity. Maka dalam konteks ini, seorang dengan IQ tinggi akan cenderung tidak religius dibandingkan saudaranya yang memiliki IQ lebih rendah. Meskipun mereka sama-sama dibesarkan dalam pola didik keluarga dengan latar belakang sangat religius.

Studi ini juga dikembangkan dengan menguji hubungan kecerdasan-religiusitas terhadap tingkat pendidikan [2]. Menariknya, hasil studi ini menunjukkan tingkat pendidikan tidak memainkan peran penting dalam mempengaruhi tingkat religiusitas sesorang. Karena tidak ada pola yang konsisten ketika tingkat religiusitas dibandingkan dengan tingkat pendidikannya. Bahkan jika dipisahkan berdasarkan asal keluarga dengan latar belakang religius yang kuat dan yang tidak.

Anak yang kurang cerdas meskipun mendapatkan pendidikan tinggi tetap saja akan menjadi individu religius ketika memiliki latar belakang religius. Sebaliknya, anak cerdas akan tumbuh menjadi individu yang kurang religius atau religiusitas yang rendah baik ia berpendidikan rendah dan dari latar belakang keluarga yang sangat religius. Artinya, kecerdasan akan memberikan dampak lebih signifikan terhadap religiosity. Pada saat yang sama, studi tersebut juga menunjukkan tingkat pendidikan tidak menggambarkan tingkat kecerdasan seseorang.

Publikasi lain yang juga tidak kalah menarik adalah dari Miron Zuckerman et. al yang melakukan meta analisis terhadap penelitian-penelitian terkait untuk hubungan kecerdasan dan religiosity [3]. Dalam publikasinya, Zuckerman et. al. mengevaluasi hasil studi-studi mengenai hubungan inteligence-religiosity. Studi tersebut menunjukkan beberapa kesalahan dalam mem-parameterisasi-kan tingkat kecerdasan.

Salah satu contohnya adalah studi-studi yang mengukur tingkat kecerdasan melalui GPA atau IPK. Menurut data merekan (Zuckerman et. al), dalam pengujian terhadap IPK mahasiswa diperguruan tinggi, IPK tidak menggambarkan tingkat IQ seseorang. Kesalahan yang sama dengan membandingkan kecerdasan (IQ) dengan tingkat pendidikan.

Banyak penelitian serupa yang kurang lebih memberikan hasil yang sama mengenai hubungan kecerdasan dan religiusitas. Baik yang dilakukan berdasarkan etnik tertentu seperti Helmuth Nyborg [4] maupun kelompok umur tertentu seperti  [5]. Peneliti-peneliti tersebut menemukan korelasi yang sama antara kecerdasan dan religiusitas. Semakin tinggi kecerdasan sesorang, maka akan semakin rendah tingkat ke-religius-an sesorang tersebut.

Para peniliti ini sepakat, setidak-tidaknya terdapat tiga faktor yang dipercaya melandasi korelasi negatif antara kecerdasan dan tingkat ke-religius-an (inteligence-religiosity) tersebut. Pertama, orang-orang cerdas memiliki kecenderungan menolak pemahaman dogmatis yang biasanya ada pada pemahaman agama.

Kedua, orang-orang cerdas memiliki kecenderungan untuk berpikir secara analitik sebagai lawan dari sikap intuitif yang mendasari kepercayaan terhadap agama. Dan yang ketiga, fungsi agama sebagai pengendalian diri, peningkatan kemampuan diri (self-enhancement) dan perasaan aman (secure attachment) dapat diberikan oleh kecerdasan. Sehingga orang-orang cerdas merasa tidak terlalu memerlukan bantuan untuk itu.

Disisi lainnya, kepercayaan terhadap agama cenderung terjadi secara intuitive. Sesorang dengan tingkat kecerdasan yang rendah akan cenderung lebih mudah menerima begitu saja semua ajaran agama yang ia terima. Karena mereka akan kesulitan berpikir kritis terhadap ajaran agama yang ia terima, karena itu mendorong mereka untuk keluar dari pola intuitif-nya.

Mereka cenderung tidak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan lain ajaran tersebut. Lebih jauh lagi, mereka juga akan sulit menerima antithesis dari thesis yang mereka percaya. Sehingga mereka tidak pernah menggerakkan thesis nya menjadi synthesis baru. Maka agama yang bersifat literally atau diterima begitu saja dengan berlindung dibalik kata “iman” akan jauh lebih mudah bagi mereka.

Lalu apakah artinya orang-orang cerdas bisa dipastikan tidak akan taat beragama atau malah cenderung tidak percaya agama? Sementara jika menengok sejarah beberapa daftar ilmuwan besar, kita bisa menemukan beberapa ilmuwan besar yang juga seorang penganut agama yang taat.

Blaise Pascal misalnya, adalah seorang matematikawan dengan sumbangsih besar dengan penemuan kalkulator analog yang juga seorang biarawan. Immanuel Kant, salah satau filsuf dengan karya-karyanya berpengaruh juga merupakan orang yang taat beragama. Tentu saja kita harus menerima kalau para ilmuwan tersebut memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.

Dalam sejarah Islam kita juga menemukan beberapa nama-nama ilmuwan yang juga dikenal sebagai muslim yang taat. Fakhruddin Al-Razi misalnya, adalah seorang fisikawan dan ahli kima (alchemist) yang memberikan banyak sumbangsih bagi pengetahuan modern saat ini. Salah satu sumbangan pemikiran Al-Razi yang paling terkenal adalah kritiknya terhadap model geosentris Ptolemy yang menyatakan bumi sebagai pusat dari alam semesta. Bagi Al-Razi, bumi (world) bukanlah pusat alam semesta, melainkan bagian dari konstelasi benda-benda langit. Lebih jauh lagi, alih-alih hanya satu bumi, Al-Razi juga berpendapat bahwa terdapat banyak world di alam semesta. Uniknya lagi, beliau mengungkapkan ide ini berdasarkan Al-Quran.

Demikian juga dengan Ibn al-Haytham, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan optik, astronomi dan matematika. Sama halnya dengan Al-Razi, Al-Haytham mempelajari dan akhirnya mengkritisi teori Optik Ptolemy. Al-Haytham juga mempelajari dan mengembangkan teorema geometri Euclid dan memformulasikan Lambert quadrilateral. Selain seorang Ilmuwan dengan banyak kontribusi terhadap perkembangan pengetahuan, al-Haytham juga merupakan seorang muslim yang taat.

Berdasarkan fakta tersebut, tentu saja kita bisa belihat ketidak konsistenan dengan hasil penelitian mutakhir yang menunjukan korelasi negatif antara religiusitas dan kecerdasan. Maka, mungkin saja kita perlu mendapatkan penjelasan lebih jauh mengenai hubungan inteligence dan religiosity ini. Pertanyaannya, bagaimana implementasi pola pikir intuitif ini bisa terjadi dalam sikap beragama? Apakah memang benar rasionalitas yang menjadi dasar berpikir analitik adalah sesuatu yang asing bagi pemahaman agama? Meninjau sejarah Mu’tazilah dan Ash’ariah dalam peradaban Islam dapat membantu kita memahami hal ini.

Kelompok Mu’tazilah pada awalnya adalah kelompok yang mengambil sikap netral pada masa perpecahan karena terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan dan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini kemudian berkembang pesat di era kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa ini, dunia Islam melalui kelompok Mu’tazilah begitu terbuka terhadap pengetahuan dari manapun.

Mereka mengkaji secara serius dari teori Euclid hingga Phytagoras, mereka mencari jawaban-jawaban terhadap pertanyaan logis mengenai ajaran Agama Islam dari filsafat Helenistic hingga filsafat Hindu. Sehingga tidak jarang juga mereka disebut sebagai free thinker atau kelompok liberal. Implikasi dari sikap ini, Peradaban Islam kemudian berkembang secara pesat. Hal ini tentu saja disebabkan wilayah tersebut menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan. Seperti yang terjatat dalam sejarah, pada masa ini ketika Eropa dalam era kegelapan, dunia Islam mengalami era ke-emasan.

Dengan menggunakan dasar logika yang mereka dapatkan dari filsafat-filsafat Henelistic, creation ex-nihilo, mereka mengembangkan konsep Tauhid dimana konsep Tuhan yang abadi sabagai satu dan kesatuan yang absolut dan tidak punya bagian terpisah. Sehingga, apapun yang menjadi bagian dari Tuhan tidak dapat dimusnahkan. Maka tidak mungkin Al-Quran adalah kata-kata dari Allah SWT karena ia akan menjadi bagian dari Tuhan yang abadi. Implikasinya, Mu’tazilah percaya bahwa Al-Quran adalah ciptaan (makhluk) Allah SWT sehingga ia tidak kekal sebagaimana Allah SWT.

Selain itu, Mu’tazilah juga mempercayai konsep surga dan neraka yang dibangun dari proses logis yang kurang lebih mirip. Tuhan menginginkan yang terbaik bagi manusia, namun free-will lah yang menyebabkan terjadinya kejahatan. Maka Tuhan akan memberikan ganjaran bagi mereka yang berbuat kebaikan dan menghukum siapa saja yang berbuat kejahatan.

Pada era kekhalifaan Abbasiyah dibawah Al-maʾmūn Ibn Ar-rashīd pada tahun 827M menetapkan paham tersebut debagai dogma negara. Pada tahun 830M kekhalifahan ini juga menetapkan minha (inquisisi) yang menghukum mereka yang berbeda pendapat dengan dogma tersebut. Salah satu korbannya adalah Imam Ahmad ibnu Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.

Kemudian sejarah mencatat sebuah perdebatan antara Abu Al Hasan al Ashary dengan Al-Jubai, gurunya yang juga pemuka Mu’tazilah. Dalam perdebatannya dengan Al-Jubai, Ashary menunjukan jika nalar memiliki kelemahan, karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan. Maka seharusnya kita memberikan ruang dan mengakui keterbatasan tersebut.

Perlu dicatat disini, Al-Ashary mengkritisi Al-Jubai juga menggunakan nalar, bukan dengan hujjah atau pendapat yang secara kaku merujuk pada ayat-ayat tertentu. Artinya disini kita bisa melihat, yang dikritisi oleh Al-Ashary adalah kekakuan paham Mu’tazilah yang meskipun awalnya dibangun dari proses berpikir kritis. Pengikut Al Ashary ini kemudian menyebut diri mereka sebagai Ash’ariah. Terkadang disebut juga sebagai kelompok tradisionalis yang menempatkan Al-Quran, Sunnah dan Hadith sebagai pedoman utama.

Dalam konteks pola pikir analitik dan intuitif yang mendasari kepercayaan, kita tentu saja dengan mudah melihat kalau Mu’tazilah bertransformasi yang awalnya membangun pemahaman dengan keterbukaan pikiran menjadi kelompok yang anti terhadap perbedaan atau berpikiran tertutup. Mekanisme berpikir kelompok Mu’tazilah yang awalnya mengikuti pola analitik berubah menjadi intuitif. Karena mereka tidak memberikan ruang untuk orang lain berbeda pendapat dengan mereka. Ketika menggunakan inquisisi negara untuk memaksakan kebenaran versi mereka, Mu’tazilah bertansformasi dari kelompok yang awalnya berlandaskan logis menjadi dogmatis.

Sebaliknya, Ash’ariah meskipun kerap disebut bagai aliran tradisionalis, membangun argumentasinya berdasarkan alur berpikir secara analitik. Al-Ashary juga menggunakan logika dalam menyusun argumentasinya. Dalam perdebatannya dengan Al-Jubai, Al-Ashary menggunakan argumentasi argumentasi dialog antara tiga orang yang meninggal, (orang yang saleh, orang jahat dan anak kecil).

Al-Ashary menantang logika Mu’tazilah yang diwakili oleh Al-Jubai, bagaimana konsep punishment and reward bisa berlaku secara adil pada tiga orang tersebut. Karena apapun ganjaran bagi masing-masing orang tersebut menjadi tidak adil. Sehingga tidak sesuai dengan Sifat Allah. Argumentasi Al-Ash’ary ini menunjukkan alur bepikirnya yang analitis. Sehingga Ash’ariah menjadi menarik bagi para pemikir.

Maka tidak heran kita mengenal Al-Razi dan Al-Haytham menjadi pengikut aliran Ash’ariah ini. Selain berpedoman scriptures Islam, kelompok As’ariah ini tetap terbuka untuk mempelajari secara serius ilmu-ilmu filsafat dari tradisi Helenisme, Hinduisme hingga Judaisme. Maka tidak heran dalam banyak tulisan mereka kita menemukan referensi dari Phytagoras, Euclid, dan Aristoteles.

Meskipun kemudian dalam perkembangannya, kelompok ini juga mengalami perubahan yang kurang lebih sama seperti Mu’tazilah. Aliran Ash’ariah ataupun turunannya, kemudian mengharamkan logika dalam memahami Agama. Kondisi ini yang kemudian kita ketahui membawa kemunduran bagi peradaban Islam hingga sekarang.

Berdasarkan konteks tersebut, kita bisa melihat kalau latar belakang intelligence-religiosity menjadi tidak relevan dalam kasus Ash’ariah-Mu’tazilah ini. Mu’tazilah yang mengedepankan logika bisa juga menjadi dogmatis terhadap pemahamannya. Sebaliknya, Ash’ariah yang tradisionalis memegang teguh prinsip agama, juga bisa mengikuti pola pikir analitik dan memberi ruang logika untuk menemukan penjelasan.

Orang cerdas tidak melulu tidak percaya terhadap agama. Mereka hanya tidak mau mengikuti aturan agama yang kaku, yang tidak memberi ruang untuk melakukan pola pikir analytic. Mereka yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi akhirnya sering dituduh tidak beriman, karena pola berpikir logis mereka kerap menjadi serangan bagi keyakinan keagamaan.

Hal ini bisa kita lihat dari Newton yang akhirnya dituduh “tidak beriman” karena keyakinan mereka tidak sesuai dengan ajaran baku yang dikeluarkan oleh otoritas agama yang berkuasa pada masa tersebut. Padahal sebelumnya, Newton merupakan anggota terhormat dari college “the holy undivided trinity” di Cambridge yang merupakan tempat pendidikan paderi bagi gereja pada masa itu.

Newton dikeluarkan dari fellow college dengan tuduhan bid’ah setelah secara terang-terangan mempertanyakan posisi Yesus dalam Trinitas. Newton tidak bisa untuk tidak mempertanyakan hal-hal yang menurutnya bertentangan dengan logikanya. Maka berdasarkan hal ini, Newton bukan tidak percaya terhadap agama, namun ia menolak pemahaman agama yang kaku dan dogmatis.

Bahkan lebih jauh lagi, hal yang sama juga bisa diuji pada ilmuwan-ilmuwan besar yang dikenal sebagai agnostic atau terlihat tidak terlalu peduli pada agama. Albert Einstein salah satu contohnya, dalam salah satu wawancara yang dimuat dalam bukunya George Sylvester Viereck, Glimpses of the Great, pada tahun 1930. Einstein menyatakan ia bukanlah seorang atheist juga bukan seorang pantheisme (dugaan ini dikemukakan karena ia mengagumi Baruch Spinoza, seorang filsuf yang meyakini kesatuan realitas dan ketuhanan).

Einstein mengilustrasikan kepercayaannya terhadap Divine Being (Wujud Tuhan) sebagai anak kecil yang masuk dalam sebuah perpustakaan yang penuh dengan buku. Anak kecil tersebut memahami betul kalau buku-buku tersebut ada yang menulis. Maka dalam konteks ini, agak sulit kita mengatakan kalau Einstein tidak religius atau kurang religius.

Jika digali bagaimana studi-studi mutakhir yang melihat hubungan negatif antara kecerdasan dan religiosity melakukan parameterisasi. Kita juga kembali menemukan penjelasan terhadap ketidak konsistenan tersebut. Salah satu contohnya yang bisa ditemui dalam publikasi Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski, Instrumen yang digunakan dalam mengukur tingkat religiosity oleh menunjukkan seseorang yang memiliki keyakinan jika Agama harus dipercayai “excactly” sebagaimana tertulis atau tidak memberikan ruang untuk mempertanyakan keyakinan tersebut.

Dengan definisi religius seperti itu, tentu saja kita akan kesulitan melihat orang yang memiliki kecerdasan tinggi sekaligus adalah seorang yang religius. Karena keterbukaan pikiran adalah salah satu indikasi kecerdasan. Sesorang dengan tingkat kecerdasan tinggi akan tertarik dengan benturan pemikiran. Pada saat yang sama, orang-orang dengan tingkat kecerdasan tinggi juga tidak menyukai konsep agama yang dogmatis.

Dengan demikian, kita bisa sedikit merevisi tingkat religiusitas ini dengan tingkat intoleransi/toleransi. Semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin toleran sikapnya dalam beragama, sebaliknya semakin rendah kecerdasan seseorang tersebut maka semakin tinggi kecenderungannya bersikap intoleran.

Memahami korelasi kecerdasan dan sikap intoleran ini, kita juga bisa mendapatkan penjelasan mengenai fenomena kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Agama. Seperti yang sama-sama kita ketahui, Agama kerap menjadi alasan yang cukup kuat untuk seseorang membunuh. Karena mereka percaya, membunuh orang lain adalah jalan pintas menuju surga.

Pada umumnya keyakinan ini mereka dapatkan karena hasutan dari seseorang yang ‘so called‘ rohaniawan ataupun pemuka agama. Para pelaku bom bunuh diri sering kali adalah pemuda tanggung dengan pemahaman agama terbatas yang diterima secara letterlijk.

Sederhananya, tingkat kecerdasan yang rendah ini yang membuat kaum fundamentalis ini kesulitan mentoleransi perbedaan, karena hal tersebut akan membuat mereka merasa insecure. Mereka menyukai keseragaman karena hal ini membuat mereka tidak perlu menghadapi benturan pemikiran.

Orang-orang dengan kecerdasan rendah ini juga akan mudah sekali curiga kalau kelompok lain diluar agamanya memiliki niat buruk. Maka tidak heran jika kita melihat mereka cenderung menyukai segala teori konspirasi untuk melegitimasi kecurigaannya. Mereka juga akan sangat mudah terpancing secara emosional karena marah adalah salah satu indikasi rendahnya tingkat kecerdasan mereka.

Sebaliknya, orang-orang dengan kecerdasan tinggi akan cenderung memiliki sikap toleran. Karena mereka memahami perkembangan pemikiran membutuhkan tantangan (challenge) dan pengujian. Setiap pemikiran harus mengalami pengujian terus-menerus hingga ia bisa dikatakan benar. Mereka menjadikan agama lebih sebagai ruang private untuk mengenal Tuhan (divine being) dari pada identitas. Sehingga tidak mudah merasa terhina ketika ada yang mengkritisi ajaran agamanya.

Terkait dengan hasil penelitian Ganzach et. al yang menunjukan tidak ada korelasi antara tingkat pendidikan, latar belakang keluarga dan lingkungan terhadap religiusitas. Maka kita tidak perlu heran ada yang berpendidikan tinggi namun menjadi tidak toleran. Atau juga ada mereka yang tumbuh dan berkecimpung dilingkungan yang sangat tidak religius namun terkait sikap dalam beragama lebih cenderung tidak toleran. Hal ini semata-meata adalah karena faktor kecerdasan mereka yang rendah.

Referensi

[1] Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski (2013), “Intelligence and religiosity: Within families and over time“. Intelligence 41 (2013) 546–552

[2] Yoav Ganzach, Shmuel Ellis dan Chemi Gotlibovski (2013) “On intelligence education and religious beliefs” Intelligence 41 (2013) 121–128

[3] Miron Zuckerman, Jordan Silberman dan Judith A. Hall (2013). “The Relation Between Intelligence and Religiosity: A Meta-Analysis and Some Proposed Explanations“. Personality and Social Psychology Review 17(4) 325–354 © 2013 sagepub.com/journalsPermissions.nav DOI: 10.1177/1088868313497266 pspr.sagepub.com

[4] Helmuth Nyborg (2009), “The intelligence–religiosity nexus: A representative study of white adolescent Americans”, Intelligence 37 (2009) 81–93

[5]  (1998),  “The relationship between intelligence and religiosity among 15–16-year-olds”, Journal of Mental Health, Religion & Culture,

Advertisements

Mengajak Tuhan Berpolitik

Agama merupakan komoditas yang selalu diperdagangkan dalam politik kekuasaan. Hal ini umum ditemukan dalam banyak peradaban. Sejarah mencatat poltik dan agama merupakan hal yang sulit dipisahkan. Hal ini tetap terjadi hingga era modern.

Surah Almaidah ayat 51 yang akhir-akhir ramai dibicarakan juga merupakan salah satu implementasi bagaimana agama dijadikan komoditas dalam perebutan kekuasaan. Kata Auliya dalam ayat ini oleh sebagian orang harus dipaksakan untuk diartikan sebagai pemimpin. Padahal sejatinya ayat ini menggunakan kata Auliya (أولياء) yang merupakan bentuk jamak dari wali (ولي) maknanya adalah “yang dekat“. Sementara, Bahasa Arab memiliki padanan kata tersendiri untuk pemimpin seperti  imām (إمام‎‎) atau dalam bentuk plural immahأئمة ) yang jelas-jelas artinya adalah pemimpin (leader), atau kata lain yang lebih mendekati seperti Amir (أمير‎‎) yang artinya adalah seseorang yang memberi perintah (the one who give the order).

Sementara kata Auliya juga agak sulit untuk diarahkan artinya menjadi pemimpin dalam konteks bahasa Arab modern. Kata Auliya dalam konteks ini memiliki beberapa arti diantaranya adalah; Sekutu (Allies), Pelindung (Guardian), teman dekat (dalam konteks sebagai sekutu). Sehingga tidak heran, dalam banyak terjemahan Al-quran diseluruh dunia, rata-rata menerjemahkannya sebagai “Teman Kepercayaan” atau “Sekutu”. Mungkin hanya di Indonesia-lah kita dapat menemukan kata Auliya dalam surat Almaidah:51 ini  diterjemahkan sebagai Pemimpin.

Jika dicari penyebabnya, salah satu kemungkinan terjemahannya dengan mudah diarahkan ke pemimpin adalah karena kata walayah (وِلاية) yang dapat diartikan sebagai kekuasaan (authority or guardianship) merupakan turunan dari kata Wali. Bahasa Arab memiliki keunikan dari bahasa lain, dalam bahasa Arab dikenal kata yang berupakan bentuk dasar dan bentuk turunan. Bentuk dasar biasanya cenderung pendek hanya terdiri dari satu atau dua kosa kata, sementara kata turunan akan terdiri dari beberapa huruf atau kosa kata. Jika dikembalikan dalam kajian Etymology, Walayah memang adalah bentuk turunan dari Wali. Namun apakah selalu bentuk turunan mempengaruhi bentuk dasar?

Kalau diuji dalam pola turunan bentuk dasar lainnya seperti Jinn ( الجن‎‎, al-jinn) merupakan bentuk dasar yang artinya “tersembunyi”(hidden). Turunan dari kata jin ini adalah Majnun (gila), Jannah (surga) dan Janin (jabang bayi). Majnun bisa diartikan “ia yang akalnya tersembunyi“, Jannah bisa diartikan “tersembunyi di balik bayang-bayang” atau “tempat yang teduh” dan Janin bisa diartikan sebagai “yang tersembunyi dibalik rahim”. Secara makna, ketiga kata tersebut bisa dikatakan berkaitan dengan makna tersembunyi (hidden) namun secara konteks ketiga kata tersebut sangat jauh berbeda. Hal yang sama terhadap konteksnya kata wali atau aulia dengan turunannya dalam kata walayah. Meskipun punya keterkaitan, dalam konteks penggunaan bisa sangat jauh berbeda.

Selain itu, surah ini jika diuji dari asbabun nuzul-nya (latar belakang turunnya ayat) konteks surat ini turun adalah dalam konteks perang. Ayat ini turun ketika ada beberapa dikalangan sahabat terikat oleh suatu perjanjian untuk saling membela dengan kaum Yahudi dari Bani Qainuqa, atau dalam bahasa sekarang kita kenal sebagai persekutuan perang atau aliansi (Alliance). Ayat ini turunkan untuk mengingatkan bahwa sebaiknya kaum muslimin mempercayakan keselamatan mereka hanya semata pada Allah SWT, bukan pada kaum lain meskipun kaum tersebut tidak bermusuhan dengan mereka. Dengan demikian, Auliya dalam ayat ini lebih tepat diartikan sebagai sekutu (allies).

Mengenai menggunakan Alquran sebagai komoditas politik, Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita mengenai ulama su’ atau ulama jahat. Rasulullah bersabda “Satu zaman  akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya, mesjid-mesjid mereka bagus-bagus dan ramai tetapi kosong dari petunjuk. Ulama mereka seburuk-buruk makhluk di kolong langit, dari mulut mereka keluar fitnah-fitnah yang akan kembali kepada mereka” (HR Imam Baihaqi, Syu’ubul Iman, 4/424). Ulama ini disebut juga sebagai Ulama su’ yang punya kecenderungan untuk menggunakan agama dengan cara-cara yang buruk demi mencapai tujuannya.

Lalu bagaimana kita bisa mengenali Ulama Su’, Ironisnya peristiwa politik adalah salah satu cara yang baik untuk melihat hal tersebut. Dalam era sekarang, kita dengan mudah melihat Ulama yang rajin muncul di perhelatan politik seperti Pilkada. Pernyataan-pernyataannya juga dengan mudah kita uji dan teliti. Ulama mana yang punya kecenderungan melontarkan fitnah dan kebohongan. Bagaimana kita mengetahui hal tersebut Fitnah? satu-satunya cara adalah dengan ilmu. Teknologi membantu kita untuk menelusuri semua pernyataan yang menjadi polemik. Kita juga bisa tanya nalar kita mengenai ini.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya ulumuddin menjabarkan bagaimana ciri-ciri Ulama su’. Pertama adalah ulama su’ menjadikan keulamaannya untuk mengejar harta dan popularitas. Padahal, dalam ajaran Islam kita dianjurkan untuk hidup sederhana dan Ulama seharusnya mensucikan diri dari keinginan duniawi atau hidup zuhud. Nabi mencontohkan hal ini dengan terus menerus membelanjakan hartanya untuk menolong orang lain dan semua orang mengetahui dari mana beliau SAW mendapatkan harta tersebut. Sementara Ulama su’ punya kecenderungan hidup dalam kemewahan. Islam mengajarkan bahwa dalam seorang yang berharta ia akan ditanyakan dua perkara, dari mana hartanya ia dapatkan dan kemana harta tersebut dibelanjakan. Seorang Ulama yang hidup dalam kemewahan harus dapat mempertanggung jawabkan dari mana hartanya dan untuk apa ia belanjakan. Artinya seorang ulama harus transparan mengenai keuangannya.

Ciri lainnya menurut Al-Ghazali adalah Ulama su’ mudah sekali mengeluarkan fatwa bahkan mengobralnya. Ulama haq akan sangat hati-hati dalam berfatwa ia tidak akan mengumbar fatwa. Sementara Ulama su’ akan mengobralkannya demi kepentingan kekuasaan ataupun harta. Ulama su’ akan mudah merubah fatwa nya karena fatwa tersebut bergantung pada kepentingan nya saat itu.

Mengajak Tuhan berpolitik demi kekayaan dan kekuasaan merupakan perilaku Ulama su’. Sebagai umat kita tetap harus bertanggung jawab terhadap apapun yang kita percaya, termasuk ketika kita mengikuti Ulama. Kita harus bertanya terhadap nurani (qalb) kita, apakah yang kita ikuti adalah Ulama yang haq atau Ulama su’. Karena menurut Rasulullah SAW,  sebaik-baiknya fatwa adalah tanyakan pada qalb mu. Untuk itu selain membersihkan hati kita juga perlu memahami ilmunya dari sumber utamanya. Maka tidak heran ayat pertama dalam Alquran adalah Iqra! atau bacalah.

Bidadari Di Surga

KATANYA seorang laki-laki mukmin dijanjikan Alquran akan mendapatkan bidadari di surga. Bidadari tersebut digambarkan sebagai pemuas nafsu para pria “beriman” sebagai ganjaran atas amalannya dan keberhasilannya menahan hawa nafsunya selama di dunia. Singkatnya, surga digambarkan seolah-olah diciptakan untuk kaum laki-laki yang dipenuhi wanita cantik yang siap melayani mereka. Pertanyaannya, benarkah demikian?

Kata-kata “bidadari ” dalam Al-quran, salah satunya seperti yang dijelaskan dalam surah Al Waqiaah:22, menggunakan kata ‘ḥūr’ (حُور). Secara literal diartikan sebagai mata yang jernih atau terang benderang (gazelle-eyed),  yang paling indah dari mata (most beautiful of the eyes), yang membedakan dengan hawar (حَوَر) atau pembeda antara bagian putih pada mata dan bagian hitam pada pupil mata. Kata ‘ḥūr’ (حُور) dapat juga diterjemahkan sebagai pasangan yang suci (pure companions). Hal yang menarik dari sisi epistemology ini, meskipun kata ‘ḥūr’ (حُور), merupakan bentuk plural (jamak) dari ʾaḥwar (أحْوَر)  yang bersifat masculine dan hawrāʾ (حَوْراء)  yang bersifat feminine, kata ‘ḥūr’ (حُور) ini bersifat feminine. Sehingga terkadang digunakan untuk menggambarkan kecantikan perempuan dalam bentuk jamak.

Menariknya lagi, kata ‘ḥūr’ (حُور) ini juga diserap kedalam beberapa bahasa Eropa sebagai “houri“, kajian entimology menemukan kata ini diserap dalam Bahasa Prancis pada tahun 1654 dan kedalam Bahasa Inggris pada tahun 1737 dengan makna menggairahkan (voluptuous), indah (beautiful), wanita yang memikat (alluring woman). Mungkin ini juga yang memulai penggunaan kata whore (wanita penggoda) yang identik dengan kata ‘ḥūr’ (حُور) ini. Namun beberapa studi juga menemukan tidak adanya kaitan pada awalnya untuk kata whore dan houri yang membuat persepsi houri menjadi melekat pada maksud seksual (bidadari yang melayani pria). Artinya, kata ‘ḥūr’ (حُور) tidak harus diidentikan dengan wanita meskipun sifat katanya feminine.

Al Quran memang diturunkan 1400 tahun yang lalu dalam bahasa Arab, namun tidak serta merta kita bisa memahami terminologinya dalam konteks Bahasa Arab saat ini. Dengan perbedaan 14 abad lebih tersebut terdapat kemungkinan kata-kata dalam Al quran bisa berbeda makna dengan Bahasa Arab yang kita kenal saat ini. Analoginya mungkin sama dengan betapa sulitnya karya-karya Shakespeare dipahami oleh orang-orang Inggris atau dari negara lain yang menggunakan Bahasa Inggris modern, padahal Shakespeare menuliskan karyanya dalam Bahasa Inggris. Artinya, Bahasa Inggris yang digunakan oleh Shakespeare tidak sama dengan Bahasa Inggris saat ini. Sehingga perlu dipahami konteksnya pada masa karya-karya tersebut ditulis. Bahkan saat ini tengah dilaksanakan sebuah project untuk menerjemahkan karya-karya Shakespeare tersebut kedalam plain English.

Bisa dibayangkan dalam konteks Alquran, betapa kompleksnya permasalahan terjemahan kata ‘ḥūr’ (حُور) tersebut. Shakespeare hanya berbeda beberapa ratus tahun dengan kita sementara Al-quran sudah berbeda lebih dari seribuan tahun. Bahasa tidaklah static namun dynamic, artinya perubahan dan pergeseran makna akan terjadi pada setiap Bahasa. Tidak heran, setiap tahunnya Oxford Dictionary selalu merevisi sekitar 1000 kata. Hal yang sama untuk seluruh Bahasa lainnya, perubahan makna baik itu generalisasi, spesialisasi, asosiasi, sintesia, ameliorasi ataupun peyorasi pasti akan terjadi. Tidak terkecuali bahasa Arab, juga akan mengalami perubahan dalam makna dalam beberapa kata atau bahkan sebagian besar kata.

Sifat kata feminine dan masculine mungkin tidak lazim bagi kita di Indonesia. Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk gender dalam bahasanya. Namun dalam beberapa Bahasa seperti France, Norsk dan juga Arab, bentuk sifat gender ini melekat pada setiap kata. Pemahaman terkadang jadi dipengaruhi oleh sifat kata ini ketika diterjemahkan kedalam Bahasa lain. Dengan rentang waktu 1400 tahun, interaksi kebudayaan mengakibatkan setiap Bahasa saling mempengaruhi. Sehingga mungkin saja interaksi budaya akan mengakibatkan pergeseran makna dalam bahasa Arab juga. Termasuk dari dalam memahami makna kata ‘ḥūr’ (حُور) yang sering diartikan sebagai bidadari ini.

Akhirnya, surga bukanlah tujuan tertinggi dari manusia beribadah dan menjauhi perbuatan dosa, apalagi untuk mengejar bidadari. Lagi pula, surga tidak diciptakan Allah hanya untuk kaum laki-laki saja. Tidak ada penjelasan eksplisit maupun implisit mengenai ini. Tujuan tertinggi yang seharusnya diraih oleh manusia adalah Nafs Muthma’inah atau jiwa yang tentram. Menjadi mukmin bukan serta merta mengharapkan imbalan, namun mendapatkan keridhoan Allah SWT. Jadi ada atau tidaknya Bidadari di surga nantinya, tidak bermasalah karena ibadah sudah menjadi kebutuhan bagi para Nafs Muthma’inah. Selain itu, Rasulullah SAW menjelaskan surga dengan tidak ada mata yang pernah melihat, tidak ada yang pernah merasakan. Sehingga tidak mungkin dibayangkan dengan cara membandingkannya dengan kehidupan di dunia. Hal yang sama dengan makna ‘ḥūr’ (حُور) atau bidadari ini. Tidak mungkin dijelaskan dengan perspektif kehidupan di dunia. Apalagi membandingkannya dengan ALEXIS.

Al-quran yang Sempurna dan Kita yang jauh dari Sempurna

Sayyidina Ali ra pernah berkata ” Al-quran itu adalah Kitab yang Sempurna, namun kesempurnaannya terletak dipundak pembacanya”. Hal ini disampaikan ketika beliau menjawab protes dari sebagian pendukungnya karena memberikan takhim atau maaf kepada Muawiyyah. Menurut mereka berdasarkan Al-quran sudah jelas mengatakan kalau seharusnya Muawiyyah harus ditumpas dan tidak ada yang pantas selain hukuman mati baginya. Bukankah Ali ra juga sangat mengetahui kalau Al-quran adalah kitab yang sempurna? Seharusnya tidak ada lagi keraguan untuk itu. Alih-alih memberikan hukuman, Ali ra, sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, malah memberikan maaf bagi Muawiyyah.

Pernyataan Ali ra yang mengatakan Al-quran adalah kitab yang sempurna namun kesempurnaannya tersebut terletak dipundak pembacanya ini menarik. Hal ini juga menunjukkan keluasan ilmu dan cemerlangnya pemikiran sang Khalifah yang juga disebut  oleh Rasulullah SAW sebagai “Gerbang Ilmu” tersebut. Al-quran memanglah sempurna, namun kita yang memahaminya tidak sempurna. Artinya kita perlu mengakui akan ada kesalahan bagi kita sebagai manusia untuk memahaminya. Ya, kita manusia yang memiliki keterbatasan dalam memahami banyak hal termasuk Al-quran.

Mengklaim bahwa kita benar hanya karena hal tersebut ada dalam dalil Al-quran sepertinya melupakan bahwa dalil tersebut kita pahami berdasarkan pemikiran kita yang terbatas. Apalagi merasa berhak menghakimi orang lain berdasarkan interpretasi kita terhadap dalil tersebut. Karena meskipun hal tersebut kita nyatakan sudah jelas apakah tidak ada kemungkinan kalau kita juga salah dalam menafsirkan maksud dari ayat tersebut?

Hal ini tentu saja akan diperburuk ketika kita merasa berhak untuk menghakimi karena ada seseorang atau sekelompok kita anggap telah sesat atau kafir. Bahkan Rasulullah SAW pernah mengingatkan agar kita tidak mudah menyatakan seseroang kafir, karena jika hal tersebut tidak benar, maka pernyataan tersebut akan berbalik kepada kita. Nah loh? Hanya karena kita memandang pemahaman orang lain tidak sesuai dengan kita, lantas kita merasa yang paling tau dan mencap mereka kafir dengan mudahnya. Padahal kita hanya manusia yang tidak sempurna yang mungkin saja salah dalam memahami maksud suatu ayat ataupun hadith? Entahlah, mungkin juga tulisan ini penuhh dengan banyak kesalahan. Namun saya menolak untuk mengkafirkan siapapun yang tidak sepakat dengan tulisan ini.

 

Perlukah Tuhan Dibela..

Beberapa hari ini gw bingung dengan kejadian-kejadian intoleransi..mereka menamakan dirinya para Pembela Tuhan.

Entahlah..dari sisi apa Tuhan perlu dibela?

Bukankah Ia sang maha kuasa? Bahkan dalam kitab suci yang gw baca Ia bahkan tidak butuh untuk disembah..manusia lah yang butuh Tuhan. Tapi kenapa manusia sedemikian ngototnya ingin membela Tuhan? Apakah manusia-manusia ini merasa mereka lebih kuasa dari Sang Maha Kuasa?

Para pelaku selalu membela diri dengan mengatakan kalau mereka membela agama Tuhan. Apakah Tuhan sedemikian lemahnya sehingga perlu dibela oleh para cecunguk-cecunguk tersebut, ya para cecunguk..karena mereka tidak lebih dari orang-orang yang merendahkan dirinya dari hewan. Bangga setelah melakukan perusakan, Menepuk dada setelah menganiaya manusia lainnya.

Pemerintah sepertinya punya agenda tersendiri dibalik kekacauan SARA di negeri ini. Meteri Agama menurut gw yang paling bertanggung jawab terhadap permasalahan ini. Jika toleransi kehidupan beragama tidak bisa dijaga, untuk apa ada mentri agama? Untuk apa uang rakyat di salurkan disana? Dan akhirnya Kementerian Agama tetap saja menjadi kementerian paling korup di Republik nya para Koruptor ini. Kenapa ketika kasus-kasus intoleransi terjadi pemerintah tidak pernah melakukan tindakan terhadap pelakunya. Perusakan, Penjarahan, Pembakaran bahkan Pembunuhan akan menjadi legal di Negeri yang katanya cinta akan kedamaian ini ketika membawa panji-panji agama. Mereka mungkin menginginkan negeri ini menjadi seperti Afganistan ditangan para Thaliban ataupun Pakistan yg saat ini dikuasai Alqaeda.

Atau mungkin saja para Penguasa yang punya Kuasa tersebut sedang ada proyek dibalik kekisruhan ini? Pak Surya Dharma Ali mungkin tidak sadar tangannya penuh darah dibalik kematian warga negara ini. SBY yang dipilih oleh 60% rakyat Indonesia ini juga tidak bisa melakukan apa-apa. Terlalu takut terhadap monster-monster di gedung DPR. Periode pemerintahan SBY sekarang adalah periode terakhirnya, karena tidak mungkin SBY dicalonkan lagi selama konstitusi kita belum berubah.. Kalau masih memble krena pencitraan rasanya tidak masuk akal..atau mungkin SBY sejak awal adalah seorang yg selalu ketakutan..

Agama Tuhan dan Peradaban Manusia

Agama-agama Abrahamic (Islam, Kristen dan Yahudi) mengklaim kalau hanya mereka lah yang merupakan agama yang berasal dari Tuhan atau sering sekali dikatakan sebagai Agama Samawi. Sementara agama lainnya adalah agama yang diciptakan dari pemikiran manusia atau biasa disebut dengan Agama Bumi. Dalam pemahamannya, agama Tuhan yang benar adalah apa-apa yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dari bangsa Israil. Hal ini kenudian akan menimbulkan suatu pertanyaan logis, kenapa Tuhan hanya menurunkan ajarannya melalui nabi-nabi dari bangsa Israil saja? ataupun juga dari bangsa Arab keturunan Ismail seperti yang dipercayai oleh ajaran Islam saja? Jawaban mereka rata-rata sama, Menurut para pemuka Agama-agama Abrahamic tersebut, bangsa Israil adalah bangsa terpilih oleh Tuhan.

Jawaban ini tentu saja tidak memuaskan bagi banyak pemikir yang kritis. Karena dengan demikian akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Jika Tuhan menurunkan Utusan-Utusan-Nya (Nabi-Nabi) hanya pada bangsa Israil saja, apa yang terjadi dengan bangsa-bangsa lain yang juga sudah ada jauh sebelum masa peradaban Bangsa Israil berdiri. Selain itu, pada kenyataannya peradaban Israil tidak lebih maju dibandingkan peradaban-peradaban lain pada masa yang sama.

Jauh sebelum masa sebelum masa kejayaan Nabi Sulaiman (yang merupakan satu-satunya sejarah peradaban bangsa Yahudi “yang katanya bangsa terpilih itu” yang dapat ditulis dengan tinta emas) bahkan jauh sebelum masa Nabi Musa mengajak kaum yahudi untuk melintasi Laut Merah dan exodus ke kanaan, bangsa -bangsa Indoaryan sudah memiliki peradaban yang sudah berkembang sedemikian pesatnya. Peradaban China kuno sudah dikenal sejak zaman Fu Hsi (3322 SM), Peradaban Indus Valley (Hindustan) sudah dikenal sejak 3300–1700 SM yang kemudian berkembang. Peradaban Persia sudah dikenal dari (1700 SM). Peradaban-peradaban tersebut jauh lebih tua jika dibandingkan dengan peradaban bangsa Israil yang baru dibawa oleh Nabi Musa as ke palestina sekitar tahun 1250 SM. Jika memang kuasa Tuhan pada waktu itu hanya bekerja pada bangsa-bangsa Israil saja, lalu siapa yang menuntun bangsa-bangsa China, Hindustan dan Persia tersebut mencapai tingkatan peradaban yang sedemikian majunya? Disini kita akan dihadapkan pada dilema paradoksial dalam mencari jawaban pertanyaan tersebut.

Jika kita mempercayai bahwa hanya ajaran agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi Israili tersebut adalah ajaran yang benar, konsekuensinya kita akan menafikan peran Tuhan dalam perkembangan peradaban manusia. Dengan kata lain, suatu peradaban tersebut maju atau tidaknya, tidak tergantung pada percaya atau tidaknya suatu kaum atau bangsa terhadap Tuhan. Bahkan, jika kita menggunakan kategori maju atau tidaknya suatu peradaban adalah dari perkembangan teknologi yang digunakan oleh masyarakatnya dalam perikehidupan (misalnya teknologi pertanian, teknologi pengolahan makanan, teknologi pengobatan dan lain-lainnya) serta tingkat kesejahteraan masyarakatnya atau yang lebih signifikan lagi kuat atau tidaknya suatu bangsa atau peradabannya dari sisi kemiliteran, maka kita akan menemukan banyak contoh dari peradaban-peradaban yang dianggap sebagai peradaban tidak ber Tuhan dalam perspektif agama-agama Abrahamic tadi jauh lebih maju dibandingkan bangsa Israil atau Yahudi sebagai bangsa dimana Nabi-nabi sebahagian besar diturunkan. Selain itu pandangan bangsa Israil adalah bangsa pilihan sehingga para nabi hanya diturunkan dari bangsa ini saja akan membuat lubang besar dalam logika kita, bagaimana mungkin bangsa Israil sebagai bangsa pilihan sementara sejarah bangsa Israil sebahagian besar adalah sejarah mencari Tanah. Selain dimasa Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as bangsa Israil selalu dijajah dari suatu bangsa ketangan bangsa lainnya.

Hal inilah yang membuat saya berfikir mengenai kebenaran surah Alqasash: 59 yang mengatakan Bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu kaum, suatu kota atau dapat juga dikatakan suatu peradaban sebelum Allah mengirim seorang utusan untuk mengajarkan kebenaran pada kaum tersebut. Ayat tersebut menyiratkan kepada kita bahwa peradaban manusia bisa berkembang adalah karena campur tangan Allah SWT, salah satunya adalah dengan mengirimkan utusannya. Dengan demikian setiap kepercayaan memiliki pertalian yang cukup erat satu sama lain. kita bisa melihat bagaimana kesamaan antara Dewa-dewa dalam kepercayaan Hindu, agama Nabi Fu Hsi, Tao, Konghuchu dan agama kebudayaan China dengan malaikat-malaikat dalam kepercayaan agama-agama Abrahamic. Mungkin perihal menghormati para Dewa dengan umat Abrahamic yang berbeda. Tetapi, ada suatu sekte didalam Yahudi dan kristen yang begitu mengormati Malaikat Mikael atau Michael. Bahkan sampai melakukan pemujaan yang sama seperti pemujaan terhadap para Dewa-dewa dalam agama-agama Hindu, konghutchu, tao dan beberapa aliran budha. tapi pada kenyataannya agama-agama tersebut juga mengenal Tuhan yang tunggal, Tuhan yang Esa. Agama Hindu mengenal Brahman (bukan Brahma) sebagai Tuhan yang Maha Esa. Agama-agama China Kuno mengenal Tian. Sang Budha sering memuja shio Devta dalam prasasti-prasasti Raja Ashoka.

Bahkan ada hal unik selain Sang Budha Gautama yang meramalkan Budha berikutnya setelah beliau adalah sesorang yang bergelar Masehi, yang dalam “Misteri Kematian Yesus” sudah saya singgung, para ahli sejarah menemukan kemiripan Brahma yang merupakan manifestasi Tuhan atau Brahman dalam kepercayaan Hindu dengan Nabi Ibrahim dalam kepercayaan Islam, Kristen dan Yudaisme. Karena kalau sesorang yang bernama Ibrahim alias Abraham alias Brahma ini benar-benar pernah ada, mereka hidup pada masa yang sama yaitu sekitar 2500 tahun sebelum Masehi dan kemungkinan besar pada daerah yang sama. Hal ini yang membuat Para ahli sejarah berteori Kalau Brahma dan Ibrahim atau Abraham itu adalah orang yang sama.

Perbedaan-perbedaan sehingga menghasilkan agama-agama yang bermacam-macam tersebut diakibatkan distorsi peradaban, mengingat masa Nabi Ibrahim tersebut sudah berlalu lebih dari 3000 tahun sampai dimasa kita sekarang.

Pada akhirnya perbedaan setiap Agama adalah perbedaan perspektif sejarah, yah pertanyaannya adalah sejarah mana yang benar atau yang lebih mendekati kebenaran. Tentu saja hal ini bisa ditentukan dengan perkembangan pengetahuan, dengan riset dan penelitian, bukan dengan perang dan memaksa setiap orang untuk menerima kebenaran menurut diri kita sendiri..apa lagi sampai menghakimi kepercayaan orang lain..

Misteri Kematian Yesus

Ini salah satu diskusi yang pernah saya baca, yaitu mengenai diskusi tentang “Misteri Kematian Nabi Isa/Yesus Kristus”. Dialog ini dilakukan di Commonwealth Institute di London pada tahun 1979. Acara ini dihadiri oleh pakar-pakar, sarjana-sarjana terkemuka pada zaman itu. Bahkan Dalai Lama pun hadir pada saat itu. Dialog ini dilakukan dengan benar-benar tertib, bisa dibayangkan jika diskusi ini dilakukan pada saat ini, apa lagi kalau di Indonesia, pasti ruangan diskusi akan ramai dengan yel-yel dan teriakan-teriakan. Alih-alih saling sharing, saling menimba ilmu, malah jadinya adi otot, adu pengerahan massa.

Mengenai Kematian Nabi Isa/Yesus Kristus ditiang salib ternyata ada tiga versi :

1. Nabi Isa Dinaikan ketiang salib kemudian mati di tiang Salib tersebut. Yang menurut orang Yahudi itu merupakan bukti kalau Nabi Isa/Yesus Kristus adalah nabi palsu. Karena menurut Taurat seorang Nabi palsu akan mati terbunuh. Maka orang Yahudi juga menolak kenabian Yahya/Yohanes karena menurut keimanan Kristen, Yohanes pembaptis mati dipenggal kepalanya oleh Herodes. Menurut orang Yahudi Yesus juga mendapat kematian terkutuk ditiang salib karena melakukan kebohongan besar dengan mengaku-ngaku sebagai putra Allah, raja orang Yahudi. Dalam kacamata iman Kristiani, pribadi Yesus yang unik ini dijabarkan beraneka ragam. Menurut iman Katholik dan sebagian Protestan (karena dari yang pernah gw baca dalam beberapa denominansi terdapat perbedaan konsep ketuhanan Yesus), Yesus merupakan putra Allah yang tunggal, sedangkan menurut Saksi-saksi Yehuwa adalah Ruh yang pertama kali diciptakan Tuhan, yang sebelumnya adalah perwujudan Michael yang merupakan Ark Angel disurga yang nantinya akan mewarisi kerajaan Allah di Didunia yang akan memimpin orang-orang beriman bersama orang-orang suci pilihan. Siapapun Yesus menurut setiap denominansi Kristiani, ia wafat di atas tiang salib untuk menebus dosa-dosa manusia yang terjerumus dalam dosa akibat Adam dan Hawa makan buah terlarang di Surga. Lalu Yesus dibangkitkan, kemudian di angkat kelangit / surga dan akan turun kembali di akhir zaman untuk menyelamatkan umat manusia

2. Pendapat Kedua adalah Nabi Isa as tidak pernah naik ketiang salib, melainkan Yudas Iskariot yang mukanya dibuat mirip secara ajaib oleh Allah SWT dengan Nabi Isa as. Kemudian Nabi Isa di Angkat kelangit dan akan turun di akhir zaman untuk menyelamatkan umat manusia.

3. Pendapat ketiga ini yang menarik menurut saya, Nabi Isa as / Yesus as memang dinaikan ketiang Salib, tetapi tidak mati melainkan hanya pingsan saja. Dan nabi Isa / Yesus as diam-diam keluar dari Judea kenegeri ditimur dan meninggal pada usia yang lanjut.

Pertama-tama saya perlu menyampaikan, bahwa tulisan ini bukan dengan maksud menyerang atau menyakiti keimanan siapapun.Ini hanya murni ungkapan pemikiran dan proses untuk belajar.

Pada pendapat ke tiga mengenai kematian Yesus ini dipaparkan beberapa bukti, dari Alquran maupun dari Injil. Bukti pertama adalah pada Surat An Nisa:157 yang berkata dan karena ucapan mereka : sesungguhnya kami telah membunuh Almasih; Isa Putra Maryam; Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuh, tidak pula menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan atas Isa bagi mereka….…” ayat ini lah yang mendasari pemikiran muslim kebanyakan kalau sebenarnya Nabi Isa as sesungguhnya tidak dinaikan ketiang salib melainkan ada orang lain yang naik ketiang salib. Orang tersebut kemudian disimpulkan sebagai Yudas Iskariot. Tetapi dalam struktur bahasa Arab, jika kita telaah lagi, ini hasil penelitian beberapa pakar bahasa Arab, terjemahan kalimat tersebut kurang tepat. Kata-kata disamarkan/diserupakan dalam Ayat tersebut lebih tepatnya ditujukan pada kejadiannya, disini adalah kejadian Nabi Isa dibunuh/disalib. hal ini disebabkan yang menjadi subjek kalimatnya adalah pernyataan pembunuhan Isa as disini. Selain itu, kata disalib disini dalam bahasa arabnya adalah Fa yuslabun, kata ini lebih tepat diartikan dibunuh dengan cara disalib, bukan dinaikan ketiang salib. Ini bisa kita lihat dalam surat Yunus yang mengatakan ; “satu diantara kamu akan memberi minum khamar kepada Tuhannya, yang satu lagi akan disalib (fa yuslabu)”. Dalam kamus Taj Al-rus dikatakan, Salib sendiri artinya adalah gajih. Dalam “sehah” dikatakan arti salib adalah sungsum, orang yang disalib dinamakan ‘maslub’ karena sungsumnya mengalir (periksa English Arabic Lexicon nya Lane dan Aqrabul Mawarid). Jadi, ayat ini lebih tepatnya adalah penjelasan mengenai peristiwa kematian Nabi Isa as yang disamarkan atau disini nabi Isa as hanya pingsan saja ketika diturunkan dari tiang salib.

Bukti lain yang menguatkan pendapat tersebut ada di ayat berikut “ ketika Allah berfirman ; ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku……. (Ali Imran 55). Dari kata “menyampaikan kamu pada ajalmu” disini jelas maksudnya bahwa Yesus akan wafat, tidak hidup dilangit. Tetapi Yesus juga tidak wafat ditiang salib, melainkan secara wajar. Kemudian kata-kata “dinaikan” disini Lebih tepat jika ditafsirkan secara mutasabihat atau kiasan, mengingat dalam Alquran kata-kata diangkat atau pun diturunkan bukan merupakan makna secara harfiah. Misalnya, “kami menurunkan rizki”, tidak dapat diartikan sebagai rizki manusia turun dari langit, ataupun “Kami menurunkan pakaian kepadamu”, bukan berarti kita akan dapat mengartikan bahwa Allah menurunkan pakaian dari langit. Intinya, makna “dinaikan” tersebut tidak dapat dijabarkan secara fisika (Proses Naik adalah bergeraknya suatu benda yang memiliki masa dan kecepatan berlawanan arah dengan gaya gravitasi). Jadi disini makna diangkat tersebut lebih pada Nabi Isa yang pada saat itu hampir mati dalam keadan hina dengan disalib lalu oleh Allah diselamatkan, diangkat derajatnya dari keadaan kematian yg hina. Beberapa tafsir lain mengatakan makna diangkat disini adalah bentuk halus dari diwafatkan.

Seperti yang kita ketahui kejadian peyaliban bahkan kisah hidup Nabi Isa, tidak diterangkan secara rinci dalam Alquran. Maka disini untuk penjelasan detail mengenai kronologi penyaliban diambil referensi dalam empat Injil yang diakui sebagai injil yang benar menurut gereja atau yang dikenal sebagai injil Apocalypta (Matius, Markus, Lukas dan Yahya/Yohanes). Berdasarkan sumber ini kita bisa lebih memahami pemikiran pendapat ketiga tersebut bagaimana sebenarnya kejadian penyaliban pada saat itu.

Kronologis penyaliban menurut pendapat ketiga tersebut adalah Nabi Isa/Yesus as ditangkap oleh pasukan Imam Kafayas, setelah dikhianati oleh Yudas Iskariot. Kemudian Yesus dibawa ke Judea untuk diadili, Pontius Pilatus pertama-tama menolak Yesus as sebagai orang yang bersalah. Bahkan Pilatus melakukan beberapa usaha untuk membebaskan Yesus dari tuntutan. Sesuai dengan kebiasaan, Pada hari Sabat dilakukan pembebasan Tahanan, Orang-orang Yahudi pada saat itu ditawarkan untuk memilih pembebasan antara Barabas yang merupakan tahanan Romawi pada saat itu karena merampok atau Yesus. Orang-orang Yahudi memilih untuk membebaskan Barabas dari pada Yesus yang dibebaskan, dan mereka tetap menuntut agar Yesus dihukum. Tidak hanya berhenti disana, Pontius Pilatus masih berusaha utk membebaskan Yesus, namun para imam Yahudi pada saat itu menolak juga bahkan mereka mengancam Pilatus akan dilaporkan kepada Kaisar. Orang-orang Yahudi mengatakan Yesus mengatakan dirinya adalah Raja orang Israel dengan demikian ia telah menentang Kaisar sebagai satu-satunya raja yang berkuasa. Menentang Kaisar hukumannya adalah mati, maka Yesus harus disalib karena pengakuannya tersebut. Jika Pilatus tidak menghukumnya maka dapat dilaporkan pada Kaisar Roma. Melihat usahanya tidak akan membuahkan hasil, akhirnya Pontius Pilatus mencuci tangannya sambil berkata “Aku suci dari darah orang yang benar ini”. Disini yang perlu kita pahami bahwa menurut Pilatus, Yesus tidak bersalah.

Dengan kondisi tersebut, kemudian dibuat keputusan bahwa Yesus akan disalib pada hari Jumat pada tengah hari. Berdasarkan pemikiran dan usaha yang ditunjukan Pontious Pilatus untuk membebaskan Yesus dari tuduhan, maka diduga pada saat itu Pontius Pilatus bersama Yusuf Arimatea bekerja sama untuk membebaskan Yesus dari Hukuman. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan hari penyaliban yang ditetapkan pada hari Jumat pada tengah hari, sementara beberapa saat kemudian sudah akan masuk hari Sabat. Pada hari Sabat tidak boleh ada tahanan yang digantung ditiang Salib. Dengan demikian Yesus hanya beberapa jam saja tergantung ditiang salib. Pada saat penyaliban Yesus berusia 33 tahun, secara medis usia Yesus masih tergolong muda, jadi sangat tidak mungkin beliau mati sedemikian cepat, walaupun sebelumnya Yesus mengalami penyiksaan. Kemudian ketika sebelum Yesus tidak sadarkan diri diatas tiang salib beliau berteriak keras, kalau dalam Matius, Yesus berteriak “Eli, Eli, Lama Sabakhtani”. Ketika dikabarkan kepada Pilatus kalau Yesus telah meninggal pada saat itu, Pilatus heran dengan begitu cepatnya Yesus meninggal. Sesuai dengan penelitian medis mengenai penyaliban ini, biasanya proses kematian diatas tiang salib akan memakan maktu berhari-hari, apalagi untuk sesorang dalam usia Yesus yang masih belia pada saat itu.Seperti yang kita ketahui, Hari Sabat dimulai pada saat matahari terbenam di hari Jumat, dan Yesus di salib pada hari Jumat tengah hari, artinya Yesus hanya beberapa jam saja di tiang salib.

Bukti lain yang mengatakan kalau Yesus pada saat itu masih hidup adalah sebagaimana dikisahkan dalam Injil : “ hanyalah seorang laskar menikam, maka sekejap itu juga keluar darah dengan air” (Yohanes 19:34) perlu digaris bawahi disini yang keluar adalah Darah dan Air, disini terdapat bukti bahwa pada saat itu Yesus masih hidup, karena mayat tidak akan mengeluarkan Darah. Secara medik mayat yang baru meninggalpun hanya akan mengeluarkan darah dalam bentuk gumpalan-gumpalan. Karena keluarnya darah pada manusia yang masih hidup disebabkan oleh mekanisme jantung yang masih memompa darah keseluruh pembuluh darah. Kemudian yang menarik disini yang keluar bukan hanya darah tapi juga air. Biasanya jika orang tertusuk, yang keluar hanya darah. Dalam dunia kedokteran ada suatu symptom yang disebut Pleuresy. Ini adalah pembengkakan pada rongga dada dan ini biasa ditemukan pada korban-korban penyiksaan (kasus yang sering ditemukan pada tahanan yang disiksa). Mengingat Yesus juga dikisahkan disiksa sebelumnya, maka hal ini sangat logis terjadi pada Yesus. Dari hasil penelitian, kasus Yesus disebut Wet Pleuresy, disini pada rongga dada Yesus terjadi pembengkakan didalamnya. Dalam kasus ini Wet Pleuresy ini justru malah menyelamatkan nyawa Yesus ketika ditusuk oleh penghulu Laskar.

Kemudian ketika Yesus diturunkan dari tiang salib, tubuh Yesus diambil oleh Yusuf Arimatea, kemudian dibawa kepemakaman pribadinya. Kemudian diinjil dikisahkan Yesus di baluri berkati-kati Salep. Sesuai dengan penelitian, dalam kebudayaan Yahudi pada saat itu tidak dikenal pembalseman mayat. Jadi kuat dugaan kalau ramuan yang digunakan untuk menggobati luka-luka Yesus pada saat itu. Keberadaan ramuan tersebut dibuktikan dari penelitian Kain Kafan Turin, yang ditemukan sejenis tumbuh2an yang memang hanya tumbuh didaerah Yerusalem. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan juga bahwa tumbuh2an tersebut biasa digunakan sebagai bahan obat2an. Untuk detailnya silahkan tonton film dokumenter dari Discovey Chanel (kayanya sekarang ada DVD-nya) yang judulnya “Turin Shroud”. Dan yang menariknya lagi adalah reportnya Prof. Kurt Berna yang pada saat itu mengepalai penelitian kain kafan turin ini. Dari hasil penelitiannya Prof Kurt Berna menemukan bahwa orang yang dibaringkan didalam kain kafan tersebut tidak mati. Hal ini lah yang mendorong Paus Vatikan pada saat itu mengeluarkan pernyataan di L’Observatore Romanos mengenai Keselamatan umat manusia ditebus dari darah Yesus, jadi kematian Yesus tidaklah penting. Pada saat ini gereja-gereja Protestan dan beberapa denominansi gereja lainnya menolak keaslian kain kafan Turin tersebut sebagai kain Kafan Yesus.

Kemudian di Injil (Markus 16:1-8, Yohanes 20 : 1-2) dikisahkan, Maria, Maria Magdalena, dan Salome pada pagi-paginya dihari Minggu segera pergi kemakam tersebut. Ketika sampai disana mereka melihat batu penutup makam Yesus sudah bergeser kesamping dan makam Yesus sudah kosong. Dan ketika masuk kedalam mereka menemukan pemuda yang berpakaian serba putih (dalam kisah ini adalah Nikodemus). Dari cerita ini bisa dibayangkan kalau Makam tersebut cukup luas, dan berbentuk ruangan. Kemudian dari hasil penelitian, pada masa tersebut ada sebuah kelompok atau sekte yang bernama Essene. Ciri-ciri dari orang Essene adalah selalu mengenakan pakaian putih, bahkan Yusuf Arimatea adalah salah satunya. Perlu kita ingat Dead Sea Scroll (Gulungan Laut Mati) adalah salah satu dokumen peninggalan essene. Bahkan ada dugaan kalau Yesus dan Yohanes pembaptis juga salah seorang dari Essene ini.

Setelah itu Yesus diam-diam keluar dari Judea untuk menyelesaikan tugasnya mencari domba-domba Israel yang tersesat. Dari hasil penelitian juga, hanya 2 atau 3 suku dari 12 Suku-suku Israel yang tinggal di Yerusalem pada saat itu, yaitu Yehuda dan Lewi, ada yang mengatakan Suku Benjamoit juga ada disana. Tapi dari semua hasil penelitian tersebut sepakat, tidak lebih dari 3 Suku Israel yang Hidup di Jerusalem pada saat itu. Hasil riset menunjukan suku-suku Israel tersebut tersebar dari Jerusalem hingga ke Kashmir. Dari hasil riset tersebut ditemukan beberapa suku di sepanjang daerah tersebut yang memiliki kultur, adat serta kebiasaan yang mirip dengan orang-orang israil. Dan yang terpenting mereka menyebut diri mereka bani Israil, Putra Israil atau berbagai macam sebutan lainya (untuk detailnya silahkan baca: Andreas Faiber Kaiser, Yesus Wafat di Kashmir)

Didalam Injil terdapat beberapa pernyataan yang mendukung pendapat bahwa Yesus tidak wafat pada saat di salib, melainkan hanya pingsan saja antara lain dikisahkan dalam Injil bahwa setelah Yesus bangkit, kemudian Yesus muncul secara tiba-tiba didepan murid-muridnya kemudian dalam Lukas 24:36-40 meceritakan kepada kita lalu Yesus muncul dihadapan murid-muridnya, kemunculan tersebut membuat takut murid-murid beliau. Mereka mengira telah melihat hantu. Pada saat itu Yesus berkata kepada murid-muridnya untuk tidak takut karena yang mereka lihat bukanlah hantu, karena hantu tidak berdaging dan bertulang. Selain itu pada bagian lain dikisahkan yesus meminta makan kepada murid-muridnya, kemudian beliau makan ikan goreng. Dari kisah ini dapat kita lihat bahwa Yesus masih memiliki kebutuhan jasmani pada saat itu. Jadi Yesus pada saat itu adalah Yesus yang hidup secara jasmaniah, bukan dalam bentuk roh. Selain itu didalam injil dikisahkan pasca penyaliban Yesus berusaha bersembunyi dengan bergerak keluar Judea pada malam hari. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan bagi kalangan sarjana teolog, karena di alkitab tidak dijelaskan mengapa Yesus harus bersusah panyah dengan cara sembunyi untuk berangkat keluar dari Judea. Jika dilihat dari konteks versi penyaliban ini, jelas Yesus harus berusaha menyembunyikan diri, karena jika beliau terlihat oleh orang-orang yahudi yang menginginkan kematiannya akan berusaha membuatnya kembali tertangkap dan keselamatannya pun akan terancam.

Nah, kemudian menurut versi ini Yesus melakukan perjalan untuk menyelesaikan misinya mencari domba-domba Israil yang tersesat. Beberapa hasil riset menunjukan adanya keterkaitan antara Sejarah Yesus dengan sang Budha. Diantaranya seorang pengembara dari Rusia yang bernama Notovich menemukan sebuah gulungan tua di Lamaserry (kediaman Dalai Lama) yang mengisahkan tentang kehidupan sesorang yang bernama San Issa Na, yang berasal dari suatu negri di Timur yang kemudian disalib lalu melakukan perjalanan kesana. Kisah San Issa Na ini, sangat unik, karena mirip sekali dengam kisah Yesus dalam Alkitab. (Lengkapnya baca : Andreas Faiber Kaiser).

Ada kata-kata Budha Gautama yang menarik disini. Budha Gautama mengatakan bahwa Budha berikutnya setelahnya akan datang dari suatu negeri di Timur, dan ia bergelar Masehi. Dari sini kita bisa melihat kalau setiap agama itu memiliki keterikatan yang erat satu sama lain. Mungkin pada setiap teritorial yang terdapat peradaban manusia, Tuhan akan mengirim setiap utusanya kemuka bumi untuk membimbing manusia dalam menjalani kehidupanya sebagai manusia, sesuai dengan Alquran, dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota sebelum Ia mengutus seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka…….” (Alqashash: 59).