Agama Tuhan dan Peradaban Manusia

Agama-agama Abrahamic (Islam, Kristen dan Yahudi) mengklaim kalau hanya mereka lah yang merupakan agama yang berasal dari Tuhan atau sering sekali dikatakan sebagai Agama Samawi. Sementara agama lainnya adalah agama yang diciptakan dari pemikiran manusia atau biasa disebut dengan Agama Bumi. Dalam pemahamannya, agama Tuhan yang benar adalah apa-apa yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dari bangsa Israil. Hal ini kenudian akan menimbulkan suatu pertanyaan logis, kenapa Tuhan hanya menurunkan ajarannya melalui nabi-nabi dari bangsa Israil saja? ataupun juga dari bangsa Arab keturunan Ismail seperti yang dipercayai oleh ajaran Islam saja? Jawaban mereka rata-rata sama, Menurut para pemuka Agama-agama Abrahamic tersebut, bangsa Israil adalah bangsa terpilih oleh Tuhan.

Jawaban ini tentu saja tidak memuaskan bagi banyak pemikir yang kritis. Karena dengan demikian akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Jika Tuhan menurunkan Utusan-Utusan-Nya (Nabi-Nabi) hanya pada bangsa Israil saja, apa yang terjadi dengan bangsa-bangsa lain yang juga sudah ada jauh sebelum masa peradaban Bangsa Israil berdiri. Selain itu, pada kenyataannya peradaban Israil tidak lebih maju dibandingkan peradaban-peradaban lain pada masa yang sama.

Jauh sebelum masa sebelum masa kejayaan Nabi Sulaiman (yang merupakan satu-satunya sejarah peradaban bangsa Yahudi “yang katanya bangsa terpilih itu” yang dapat ditulis dengan tinta emas) bahkan jauh sebelum masa Nabi Musa mengajak kaum yahudi untuk melintasi Laut Merah dan exodus ke kanaan, bangsa -bangsa Indoaryan sudah memiliki peradaban yang sudah berkembang sedemikian pesatnya. Peradaban China kuno sudah dikenal sejak zaman Fu Hsi (3322 SM), Peradaban Indus Valley (Hindustan) sudah dikenal sejak 3300–1700 SM yang kemudian berkembang. Peradaban Persia sudah dikenal dari (1700 SM). Peradaban-peradaban tersebut jauh lebih tua jika dibandingkan dengan peradaban bangsa Israil yang baru dibawa oleh Nabi Musa as ke palestina sekitar tahun 1250 SM. Jika memang kuasa Tuhan pada waktu itu hanya bekerja pada bangsa-bangsa Israil saja, lalu siapa yang menuntun bangsa-bangsa China, Hindustan dan Persia tersebut mencapai tingkatan peradaban yang sedemikian majunya? Disini kita akan dihadapkan pada dilema paradoksial dalam mencari jawaban pertanyaan tersebut.

Jika kita mempercayai bahwa hanya ajaran agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi Israili tersebut adalah ajaran yang benar, konsekuensinya kita akan menafikan peran Tuhan dalam perkembangan peradaban manusia. Dengan kata lain, suatu peradaban tersebut maju atau tidaknya, tidak tergantung pada percaya atau tidaknya suatu kaum atau bangsa terhadap Tuhan. Bahkan, jika kita menggunakan kategori maju atau tidaknya suatu peradaban adalah dari perkembangan teknologi yang digunakan oleh masyarakatnya dalam perikehidupan (misalnya teknologi pertanian, teknologi pengolahan makanan, teknologi pengobatan dan lain-lainnya) serta tingkat kesejahteraan masyarakatnya atau yang lebih signifikan lagi kuat atau tidaknya suatu bangsa atau peradabannya dari sisi kemiliteran, maka kita akan menemukan banyak contoh dari peradaban-peradaban yang dianggap sebagai peradaban tidak ber Tuhan dalam perspektif agama-agama Abrahamic tadi jauh lebih maju dibandingkan bangsa Israil atau Yahudi sebagai bangsa dimana Nabi-nabi sebahagian besar diturunkan. Selain itu pandangan bangsa Israil adalah bangsa pilihan sehingga para nabi hanya diturunkan dari bangsa ini saja akan membuat lubang besar dalam logika kita, bagaimana mungkin bangsa Israil sebagai bangsa pilihan sementara sejarah bangsa Israil sebahagian besar adalah sejarah mencari Tanah. Selain dimasa Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as bangsa Israil selalu dijajah dari suatu bangsa ketangan bangsa lainnya.

Hal inilah yang membuat saya berfikir mengenai kebenaran surah Alqasash: 59 yang mengatakan Bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu kaum, suatu kota atau dapat juga dikatakan suatu peradaban sebelum Allah mengirim seorang utusan untuk mengajarkan kebenaran pada kaum tersebut. Ayat tersebut menyiratkan kepada kita bahwa peradaban manusia bisa berkembang adalah karena campur tangan Allah SWT, salah satunya adalah dengan mengirimkan utusannya. Dengan demikian setiap kepercayaan memiliki pertalian yang cukup erat satu sama lain. kita bisa melihat bagaimana kesamaan antara Dewa-dewa dalam kepercayaan Hindu, agama Nabi Fu Hsi, Tao, Konghuchu dan agama kebudayaan China dengan malaikat-malaikat dalam kepercayaan agama-agama Abrahamic. Mungkin perihal menghormati para Dewa dengan umat Abrahamic yang berbeda. Tetapi, ada suatu sekte didalam Yahudi dan kristen yang begitu mengormati Malaikat Mikael atau Michael. Bahkan sampai melakukan pemujaan yang sama seperti pemujaan terhadap para Dewa-dewa dalam agama-agama Hindu, konghutchu, tao dan beberapa aliran budha. tapi pada kenyataannya agama-agama tersebut juga mengenal Tuhan yang tunggal, Tuhan yang Esa. Agama Hindu mengenal Brahman (bukan Brahma) sebagai Tuhan yang Maha Esa. Agama-agama China Kuno mengenal Tian. Sang Budha sering memuja shio Devta dalam prasasti-prasasti Raja Ashoka.

Bahkan ada hal unik selain Sang Budha Gautama yang meramalkan Budha berikutnya setelah beliau adalah sesorang yang bergelar Masehi, yang dalam “Misteri Kematian Yesus” sudah saya singgung, para ahli sejarah menemukan kemiripan Brahma yang merupakan manifestasi Tuhan atau Brahman dalam kepercayaan Hindu dengan Nabi Ibrahim dalam kepercayaan Islam, Kristen dan Yudaisme. Karena kalau sesorang yang bernama Ibrahim alias Abraham alias Brahma ini benar-benar pernah ada, mereka hidup pada masa yang sama yaitu sekitar 2500 tahun sebelum Masehi dan kemungkinan besar pada daerah yang sama. Hal ini yang membuat Para ahli sejarah berteori Kalau Brahma dan Ibrahim atau Abraham itu adalah orang yang sama.

Perbedaan-perbedaan sehingga menghasilkan agama-agama yang bermacam-macam tersebut diakibatkan distorsi peradaban, mengingat masa Nabi Ibrahim tersebut sudah berlalu lebih dari 3000 tahun sampai dimasa kita sekarang.

Pada akhirnya perbedaan setiap Agama adalah perbedaan perspektif sejarah, yah pertanyaannya adalah sejarah mana yang benar atau yang lebih mendekati kebenaran. Tentu saja hal ini bisa ditentukan dengan perkembangan pengetahuan, dengan riset dan penelitian, bukan dengan perang dan memaksa setiap orang untuk menerima kebenaran menurut diri kita sendiri..apa lagi sampai menghakimi kepercayaan orang lain..

Advertisements

10 thoughts on “Agama Tuhan dan Peradaban Manusia

  1. gentole

    Agama-agama Abrahamic (Islam, Kristen dan Yahudi) mengklaim kalau hanya mereka lah yang merupakan agama yang berasal dari Tuhan atau sering sekali dikatakan sebagai Agama Samawi. Sementara agama lainnya adalah agama yang diciptakan dari pemikiran manusia atau biasa disebut dengan Agama Bumi.

    Mesti jelas, klaimnya siapa? Tidak semua penganut agama Ibrahimiah berpandangan demikian kan?

    Reply
  2. kuroi

    nice article.. 🙂

    jika qta benar2 mencari kebenaran, berhati bersih dan tetap jujur ketika dihadapkan pada suatu kebenaran, suatu saat Dia pasti memberikan hidayahNya..

    Reply
  3. amflife Post author

    terminologi agama samawi adalah terminologi yang umumnya di gunakan oleh para pemeluk agama abrahamaic mas gentole..memang tidak semuanya, tetapi arus utamanya (main stream) berkata demikian. toh Nabi-nabi yang kita kenal dan kita percayai adalah Nabi-nabi dari Kaum Yahudi kan?walaupun Alquran tidak pernah men state mengenai 25 Nabi ayng wajib di ketahui apalagi 25 yang wajib di Imani..

    Reply
  4. imam

    luar biasa…, saya sangat menyukai tulisan ini mas…, karena saya juga mempunyai pemikiran yang sama sedari saya kecil.
    saya mengacungi jempol untuk keberanian anda menulis artikel ini

    Reply
  5. nany_armada@yahoo.com

    keren… saya setuju dengan penulis… seharusnya manusia berfikir seperti anda sehingga tidak banyak kefanatikan dan menyalahkan atau menyudutkan salah satu agama.. se olaholah satu agama saja yang paling benar dan paling direstui Tuhan..
    Kalo saja digali lebih dalam semua agama mengajak kebaikan dan ujungnya ingin selamat, tidak ada satu agamapun yang mengajak kepada kehancuran..
    jadi dibebaskan untuk memeluk agama apapun karena itulah daya cipta manusia atau budaya manusia.. kalo Tuhan tidak pernah memerintahkan kepada manusia untuk memilih agama.. yang ada adalah hidup penuh kasih kepada sesama.. makanya dibuat agama oleh manusia saat itu adalah untuk membentengi langkah2 manusia yang diluar kewajaran…
    peace… just for sharing

    Reply
    1. amflife Post author

      Terimakasih mba sudah mampir…saya memimpikan perbedaan agama merupakan diskusi biasa yang ditanggapi secara ilmiah..toh pada dasarnya semua agama datangnya dari Tuhan yg sama..
      Jadi kita tidak mendengarkan lagi perbedaan agama di bicarakan dengan teriakan, makian..bahkan saling membunuh..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s