Category Archives: Uncategorized

Untuk hal-hal yg gw bingung jg mau dimasukkan kemana..

London Attack, Terorisme dan Islam

Wesminster-782564.jpg

Kejadian penyerangan oleh sekelompok orang dengan mengatasnamakan Islam di pusat kota London memang menyedihkan. Karena kejadian di kota yang dipimpin oleh Sadiq Khan, muslim pertama yang menjadi walikota London, ini selain menambah daftar panjang kekerasan yang dilakukan dengan mengatasnamakan Islam,  kejadian ini juga memperkuat stigma Islam sebagai agama kaum barbar. Lebih menyedihkan lagi, karena dilakukan oleh kelompok orang yang masuk ke UK bersama-sama dengan gelombang pengungsi Syria. Saat ini eropa sedang bergolak mengenai menerima atau menolak pengungsi dari Syria. UK termasuk negara yang menerima pengungsi dari Syria ini.

Pasca serangan tersebut memang tidak ada dampak langsung yang dirasakan oleh kaum muslimin yang tinggal di UK. Selain banyaknya polisi yang berpatroli di pusat-pusat keramaian kota London dan seringnya pengumuman di underground station atau tempat-tempat keramaian lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian bagi warga London dan turis yang sedang berada di kota ini, nyaris tidak ada yang berubah. London masih menunjukkan keramahannya bagi siapapun. Tanpa melihat latar belakang agama seseorang tersebut, mereka tidak segan-segan menawarkan bantuan pada sesorang yang berpenampilan seperti seorang muslim yang terlihat sedang kebingungan dipusat kota london. Mungkin masyarakat UK sudah mulai bisa memisahkan antara terorisme dan Islam.

Jika kita tinjau ajaran Islam dari sumber utamanya, Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW, tidak ada satupun yang dapat membenarkan tindakan tersebut. Ada beberapa point penting yang membuat kita dapat menyimpulkan kalau tindakan terorisme tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam.

1. Umat islam memang diijinkan untuk berperang, namun hanya jika diperangi. Seperti yang dikemukakan dalam surah Al-Hajj  39-40.

 

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيراً وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,

Ayat ini menunjukkan, ada prasyarat yang harus dipenuhi untuk kaum muslimin diperbolahkan mengangkat senjata. Perang hanya diijinkan bagi mereka yang diperangi, mereka yang sudah terusir hanya karena mereka mengatakan Laa ilaha Ilallah dan mereka dianiaya karena hal tersebut.

Rasulullah  SAW menunjukkan bagaimana implementasi ayat ini. Dalam 13 tahun pertama dari 23 tahun masa kenabian beliau SAW, beliau dan para sahabat mengalami persekusi, penaniayaan dan bahkan beberapa disyahidkan hanya karena mengikuti beliau. Selama 13 tahun di Mekkah, Rasulullah menunjukkan kesabaran dan mengajarkan hal yang sama kepada pengikutnya. Ketika prosekusi tersebut sudah melampaui batas, apakah Rasulullah SAW meminta pengikutnya untuk memberontak? Tidak. Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah hijrah ke madinah. Mengangkat senjata bukan opsi pertama yang dipilih oleh beliau SAW. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Nabi Musa as ketika mendapatkan persekusi dari Firaun dan Masyarakat mesir, hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Musa as dan pengikutnya adalah exodus ke Palestina.

Dalam prakteknya, Allah SWT mengajarkan umat manusia kalau jalan perang baru diambil ketika mereka masih tetap dperangi meskipun sudah melarikan diri. Ijin berperang bagi kaum muslimin juga baru diijinkan ketika mereka masih dikejar meskipun sudah mengungsi ke Madinah.

2. Perang haruslah mengarah ke perdamaian.

Seperti yang yang dapat kita temui dalam surah Al Anfaal : 51 peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin haruslah mengarah pada perdamaian. Jadi selain untuk membela diri, peperangan juga tidak dibenarkan untuk menghancurkan musuh hingga tumpas.

٦١. وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan, jika mereka condong kepada perdamaian, maka condong pulalah engkau kepadanya dan bertawakallah kepada Allah swt. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui

Implementasi dalam kriteria ini adalah seperti yang ditunjukkan Rasulullah ketika kaum muslimin yang sudah melarikan diri ke Madinah masih juga dikejar. Sehingga tidak ada jalan lain selain mengangkat senjata. Namun, dengan jumlah yang masih sangat sedikit, tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa kalangan sahabat. Sehingga mereka menawarkan untuk menggunakan perjanjian persekutuan yang mereka miliki. Namun melalui Surah Al Maidah 51, umat Islam dilarang untuk melakukan persekutuan perang.

Seperti yang dibahas di sini, Kata Auliya (plural) atau Wali (singular) makna sejatinya adalah “Sekutu”. Kata ini sering sekali digunakan untuk “pemimpin” apalagi ketika menjelang Pilkada di Tanah Air. Pemaksaan terjemahan tersebut sangat lemah seperti karena menjadi tidak nyambung dengan ayat-ayat setelahnya.  Berikut adalah pembandingan penggunaan kata Auliya/Wali dalam Al-Maidah: 51 dan Almaidah: 55

Al-Maa`idah : 51

 ٥١. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi Auliya (mu); sebahagian mereka adalah Auliya bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu menjadikan mereka Auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Al-Maa`idah : 55

. إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya Wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Dari kedua ayat tersebut dapat kita lihat betapa janggalnya jika kata Auliya diterjemahkan sebagai pemimpin-pemimpin. Semantara kata Wali pada ayat 55 nya tidak mungkin diterjemahkan sebagai pemimpin. Jadi konteks ayat ini lebih tepat sebagai sekutu perang.

Seperti yang dibahas sebelumnya, secara Asbabun Nuzul, ayat ini merupakan diturunkan ketika masa-masanya kaum muslimin di Madinah terus menerus diserang oleh kaum Quraisy. Kaum muslimin yang berada di Madinah kalah secara jumlah, secara manusiawi tentu saja wajar kalau mereka khawatir. Maka karena kebetulan ada beberapa sahabat yang terikat perjanjian persekutuan dengan kaum Yahudi dari bani Qunaiza, mereka tentu saja berpikiran untuk memanfaatkan perjanjian tersebut. Namun, Allah SWT menentang rencana para sahabat tersebut menalui Surah Al-Maidah ini. Karena dengan persekutuan, alih-alih akan membuat perang mengarah pada perdamaian, malah akan memperburuk kondisi peperangan tersebut.

Contoh bagaimana buruknya persekutuan perang bisa kita lihat pada Perang Dunia I. Perang ini dipicu oleh terbunuhnya Franz Ferdinand, putra makhkota kerajaan Austria, beserta istrinya oleh kelompok nasionalis Malda Bosna ketika berkunjung ke ibu kota Bosnia, Sarajevo. Austria yang pada saat itu terikat persekutuan dengan Jerman atau yang dikenal dengan central power menjadi berkonflik dengan Rusia yang terikat persekutuan dengan Prancis dan Inggris yang dikenal dengan the Allies. Singkatnya, peristiwa tersebut kemudian berkembang ke konflik yang melibatkan negara-negara di eropa dan asia pasifik karena tiap-tiap negara dalam dua persekutuan tersebut juga terikat persekutuan dengan negara-negara diluar central power dan the allies. Sejarah mencatat Perang Dunia I memakan korban hingga 60 juta jiwa. Jumlah fantastis untuk korban tidak perlu (unnecessary casualties), hanya karena kematian seorang pangeran. Melihat contoh ini, maka sangat wajar jika umat Islam dilarang bersekutu, karena akan menjauhkan dari proses perdamaian.

Peristiwa London Attack ini tentu saja cukup paradox. Kaum muslimin yang mengungsi dari Syiria bukan karena mereka sedang diserang oleh kaum kafir. Tapi mereka lari karena pemimpin-pemimpin mereka sendiri, kaum muslim juga, yang sedang berebut kekuasaan. Orang-orang Arab dari Syiria dan Irak masih terus mengungsi ke Eropa termasuk UK. Teroris yang melakukan serangan di negara-negara yang merupakan tempat berlindung kaum muslimin, jelas tidak mewakili ajaran Islam karena jelas-jelas bertentangan dengan Al-quran dan sunnah Rasulullah.

Advertisements

Are we the Truth Seeker or Just The Follower of Our Life Mainstream?

Pada kenyataannya kepercayaan kebanyakan orang adalah kepercayaan orang tuanya. hanya segelintir orang di dunia ini yang benar2 mencari kebenaran utk kepercayaan yang akan dia anut. Dengan demikian “life after death” bagi kebanyakan orang tidak lebih dari “life great gamble”. Kalau kepercayaan orang tua yang mereka ikuti dengan “Taklid” adalah kepercayaan yang benar maka mereka cukup beruntung di kehidupan setelah kematian mereka kelak. Tetapi kalau tidak, mereka berada diantara orang2 yang bernasib naas.
Dengan stereotip seperti ini, jadinya cukup aneh kalo orang-orang bisa bertindak sebagai hakim dalam kepercayaan orang lain. Seolah-olah dia adalah perpanjangan tangan Tuhan, pemegang kebenaran hakiki..sehingga dia merasa memilki Hak utk mengadili kepercayaan orang lain yang dia anggap menyimpang.
Klaim kebenaran seperti ini bervariasi, dari yang paling ekstreem dengan menyatakan darah seseorang halal utk ditumpahkan karena dianggap telah menyimpang dari “jalan kebenaran” yang ia klaim sampai hanya dengan menyatakan seseorang adalah sesat dan berusaha mengajaknya utk pindah ke keyakinan yg ia klaim sebagai suatu keyakinan yg benar, tanpa memberi pemahaman dengan pendekatan yg logis dan penuh kesabaran, hal ini bahkan juga terjadi pada mereka yang mengklaim dirinya sebagai orang yg tidak menyukai kekerasan dalam beragama.
Padahal berapa banyak diantara kita yang benar2 mencari kebenaran tersebut? toh kembali pada kenyataanya, sebagian besar dari kita hanya mengikuti arus utama kehidupan kita, karena orang tua kita mempercayai kepercayaan tertentu, lalu kita mengikutinya..Tuhan yang kita kenal juga adalah Tuhan yang dikenalkan oleh orang tua kita kepada kita..
Mungkin disini kita harus bertanya kembali kepada diri kita..Apakah kita adalah para pencinta kebenaran?sehingga sepanjang kehidupan kita adalah usaha untuk mencari kebenaran tersebut?

Kesetaraan Gender / Bias Gender ?

Isu gender, bagi kaum feminist ini adalah perjuangan panjang bahkan di era modern seperti sekarang. Sangat sering isu ini bersinggungan dengan isu teologis.  Sejarah mencatat, bahkan didaratan Eropa dimana saat ini ide kesataraan dalam banyak hal mendapat tempat yang baik, pada awal masa renaissance pembunuhan 5 juta wanita terjadi atau sekitar 12,545 yang tercatat dalam literatur-literatur sejarah dihukum mati melalui persidangan yang di formalkan oleh Pope John XXII pada tahun 1320. Hukuman mati tersebut rata-rata hanya karena tuduhan sebagai seorang Tukang Sihir. Dalam beberapa tulisan, Michael Baigant dan Novel Dan Brown dikatakan Wanita-wanita yang dibunuh tersebut adalah mereka-mereka yang memilki pengetahuan dlm bidang kedokteran, kimia dan lain-lain.  Secara teologis dalam perjanjian lama dikatakan bahwa wanita menanggung dosa warisan yang lebih besar dari pada kaum pria, karena Hawa yang membujuk Adam untuk memakan buah terlarang sehingga Adam dan Hawa terusir dari Surga.

Islam adalah agama yang paling sering diidentikkan sebagai agama yang paling tidak menghargai kaum wanita dalam hal ini. Ini juga didukung dalam tradisinya, kaum muslimin menempatkan kaum wanita dalam posisi yang begitu memprihatinkan. Dan selalu berlindung dibalik alasan teologis yang menyatakan bahwa kaum laki-laki merupakan pemimpin bagi kaum wanita, yang dalam prakteknya lebih di implementasikan sebagai kaum lelaki merupakan penguasa bagi kaum wanita. Namun sebagai orang yang percaya terhadap ajaran Islam, maka disini saya mencoba mengesambingkan pemahaman bagi mengenai peran wanita dan pria dalam terminologi baku yang merupakan interpretasi para ulama di abad pertengahan, yang kita kenal sebagai tafsir baku yang harus dipercayai secara dogmatis.

Saya percaya Alquran  memiliki banyak makna dalam setiap rangkaian kata-katanya. Manusia tidak akan hentinya akan menemukan rahasia-rahasia yang tersebunyi dibalik kalimat-kalimat yang termaktub didalam kitab suci ini. Maka dalam kaitan ini saya mempercayai Alquran merupakan kitab yang multi tafsir.  sebagai mana Sayyidina Ali ra mengatakan kepada kaum khawarij : “Aquran adalah kitab yang telah sempurna, Namun Alguran  meletakkan maknanya di pundak pembacanya”. Maka dalam hal ini setiap orang yang dengan sungguh2 dan mencintai kebenaran akan menemukan makrifat-makrifat kebenaran dalam tiap kata-katanya.

Kembali dalam terminologi Islam mengenai gender ini, jika kita lihat  Alquran dalam Surah Annisa : 34 atau ayat 35 kalau Basmalah dihitung sebagai 1 ayat الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء (Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita), dalam hal ini pernyataan kata2 قَوَّامُونَ (kawwamuuna) disini apakah berarti pemimpin atau pelindung. karena kedua arti tersebut bisa digunakan, kemudian berikutnya dalam ayat yg sama juga disampaikan, “oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)”, jika kita melihat hal ini dalam konteks kaum laki2 merupakan pelindung bagi kaum wanita, maka kelebihan disini adalah kelebihan alamiah yg dimiliki oleh kaum laki2. sehingga dengan demikian dalam gender terdapat pembagian peran. Demikian juga halnya dalam mengurus rumah tangga, karena kelebihan yang dimiliki oleh kaum wanita, menjadi peran ibu juga dalam mengurus anak, tentu saja dalam konteks keluarga tersebut masih lengkap. Karena kaum wanita di bekali hati dengan kasih sayang yg jauh lebih besar dari kaum laki-laki. Sama halnya laki-laki di ciptakan dengan tenaga yang lebih besar dari kaum wanita sehingga menjadi perannya sebagai pelindung kaum wanita.

Terlepas dari perdebatan teologis mengenai permasalahan Gender dalam agama manapun ternyata isu gender ini memilki implikasi lain dalam pola kehidupan manusia saat ini. Keterbukaan pemikiran manusia era modern menjadikan kesepahaman dalam banyak hal untuk kesetaraan gender ini. Namun dilihat dari dampak lainnya, permasalahan pun muncul disini. Di negara-negara maju banyak wanita yg menolak utk mengurus anak pd hal -hal tertentu bahkan menolak memilki anak dengan alasan akan mengekang kebebasan meraka, karir mereka ataupun masa depan mereka. Akhirnya gambaran pernikahan bagi kaum wanita dinegara-negara maju lebih seperti penjara seumur hidup, yang membuat mereka harus membuang jauh-jauh impian mereka untuk berkarir atau meraih suatu cita-cita dalam kehidupan pernikahannya (mariage life). Makanya tidak jarang para Ibu-ibu muda di negara-negara maju meninggalkan bayinya begitu saja. Tuhan menciptakan manusia sama di hadapan-Nya. Pengertian ini memang memiliki persepektif yang berbeda2 dalam benak setiap orang. Namun dalam permasalahan keluarga dan anak ada hal-hal lain yang harus dilihat dengan bijaksana. Pada kenyataanya secara psikologis seorang Ibu dianugrahi kemampuan utk lebih memahami anak2 mereka dibanding seorang ayah. Dalam hal ini peran seorang Ibu menjadi begitu vital dalam perkembangan seorang anak yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh figur seirang ayah. Maka dalam suatu keluarga peran Ibu dalam Perkembangan dan pendidikan seorang anak menjadi sangat penting.

Tentu saja Permasalahan Isu Gender ini tidak hanya terbatas di permasalahan ini saja. Namun yang perlu diwaspadai,  adalah ketika isu gender mulai bergeser sehingga lebih menjadi suatu persaingan gender untuk mendominasi gender yang lain. Sehingga tidak mengherankan ide kesetaraan gender malah mengancam kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh kaum wanita sendiri. Sehingga akhirnya lebih tepat dikatakan sebagai bias gender ketimbang kesetaraan gender.

Sumpah Pemuda…….

Udah agak telat sih…tapi ngga apa lah.. sebenernya ini tulisan yang gw kirim ke Media Indonesia beberapa waktu yang lalu saat..bentrok besar-besaran antara mahasiswa dengan aparat waktu demo BBM..yah tulisan ini emang dimuat walaupun udah di edit sana-sini sampai-sampai gw juga udah ga mengenal lg tulisan ini…entah karena substansialnya yang ga cocok atau karena materinya yang gw tulis terlalu dangkal sehingga perlu proses pengeditan besar-besaran, atau mungkin aja dikhawatirkan tulisan gw ini akan menimbulkan kerusuhan dan instabilitas polotik negeri ini (????…tanda-tanda besar kepala?) yah mungkin juga karena gw nulisnya kepanjangan untuk satu artikel koran (walaupun gw udah men-cut tulisan itu jadi di bawah 6000 karakter).. tapi ya sudahlah…pihak redaksi pasti punya pertimbangan yang lebih bijaksana dari dugaan-dugaan tadi..

Kenapa tiba-tiba gw jadi ingat sama tulisan ini?karena dalam beberapa iklan – iklan yang berhubungan dengan sumpah pemuda yang merefleksikan kondisi pemuda Indonesia tercinta ini, kita bisa lihat kalo kaum muda (dimana gw jadi salah satu makhluknya) punya banyak prestasi, antara lain; Juara tawuran antar fakultas, juara tawuran antar universitas se jabodetabek, juara harapan I tawuran kelas umum se Jakarta Raya dan paling hebat adalah kemenangan gilang-gemilang tawuran dengan polisi ( dua set langsung)…heheh..

Ntah kenapa dari semua refleksi Sumpah Pemuda itu ko yang bisa dilihat para kaum muda dan juga sekarang jadi tren dikalangan mahasiswa segala sesuatu yang berbau keributan adalah hobi….apa ini pengaruh perubahan hormonal yang sudah terkontaminasi polusi?atau permasalahan kurangnya lahan bermain diperkotaan sehingga pemuda-pemuda sekarang (termasuk gw) jadi mengembangkan tawuran menjadi olahraga yang menyenangkan dan menyehatkan (tentu tidak termasuk kepala benjol dan bibir jontor habis dipukulin)

Tulisan gw ituyang gw kirimin  aslinya seperti ini…

Gerakan Mahasiswa : Harus kah Vandal?

Oleh : Ahmad Mukhlis Firdaus

(Penulis Aktif di Tim Penyikapan Isu Nasional (TPIN) KM-ITB periode 2002-2003)

 

One of the great liabilities of history is that all too many people fail to remain awake through great periods of social change… Today, our very survival depends on our ability to stay awake, to adjust to new ideas, to remain vigilant and to face the challenge of change. (Dr. Martin Luther King)

 

Melihat aksi-aksi mahasiswa yang akhir-akhir ini berubah menjadi aksi-aksi anarkis, dan cenderung tidak simpatik, mungkin kita perlu meninjau kembali seperti apakah seharusnya Gerakan mahasiswa tersebut. Mungkinkah gerakan-gerakan mahasiswa sudah mencapai titik jenuh sehingga kehilangan arah dan tak ubahnya jadi rengekan anak-anak muda yang membutuhkan perhatian media akan aspirasi-aspirasinya?

Pergerakan mahasiswa sejatinya adalah gerakan moral. Sebuah gerakan moral merupakan gerakan reaksi terhadap suatu kondisi tertentu yang dianggap tidak ideal. Di sisi lain Mahasiswa selalu distigmakan sebagai agen peubah. Karena ia dianggap sebagai masyarakat intelektual yang masih murni. Idealisme yang murni selalu menjadi landasannya dalam bertindak dan bergerak. Walaupun pada kenyataannya ini tidak berlaku mutlak. Namun secara perbandingan, kita dapat dengan aman mengatakan bahwa mahasiswa sebagai salah satu element generasi muda jauh lebih idealis dan murni dalam melancarkan tindakan dan gerakan.

Dalam sejarah kehidupan Negara Republik Indonesia, gerakan-gerakan mahasiswa merupakan salah satu pelopor utama dalam perubahan. Gerakan-gerakan tersebut tercatat dalam sejarah kehidupan bangsa ini dimulai dari gerakan Perhimpoenan Indonesia di Belanda, yang didirikan pada 1922 oleh Mohammad Hatta, yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam, hingga gerakan penumbangan rezim orde lama dan mendirikan orde baru sampai gerakan Reformasi, bahkan sampai hari ini kita masih melihat setiap hari demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan berbagai macam aspirasi.

Gerakan-gerakan tersebut biasa juga disebut sebagai gerakan struktural, karena ditujukan untuk mengkritisi, menekan, bahkan menjatuhkan suatu rezim yang sedang berkuasa atau memerintah. Dengan kata lain gerakan-gerakan structural adalah gerakan yang berorientasi pada perubahan ditingkat kebijakan pemerintah (government policy) dan Struktur pemerintahan yang dianggap tidak mampu menjalankan fungsinya (Structural Change).

Melihat fenomena gerakan struktural yang dilakukan mahasiswa di negeri ini, kita dapat melihat semakin hari greakan-gerakan mahasiswa diera reformasi, dimana kebebasan berpendapat bisa kita dapatkan, semakin jauh dari realitas masyarakat. Pola gerakan mahasiswa selalu berubah orientasi. Mulai dengan orientasi materialistik, orientasi elitis, dan hingga berorientasi seporadis dan separatis. Kecenderungan ini kerap terlihat ketika mahasiswa bergerak dengan atas dasar simbolik dan patronik. Gerakan mahasiswa semakin lama semakin prematur, tak memiliki kontinuitas yang tinggi terhadap arah gerak dan perjuangannya.

Bahkan yang menyedihkan akhir-akhir ini adalah kita dapat melihat bagaimana gerakan-gerakan mahasiswa berubah menjadi gerakan yang tidak simpatik dari kacamata masyarakat. Mahasiswa yang seharusnya berdemonstrasi untuk membela kepentingan rakyat berubah menjadi komoditas politik dan bahkan menjadi menyeramkan. Begitu pentingnya publisitas gerakannya bisa tersorot oleh media sehingga menjadikan gerakan ini malah menjadi gerakan yang menghalalkan segala cara agar menjadi headline berita keesokan harinya. Mungkin kita harus melihat kembali apa yang terjadi di bangsa ini, sehingga mungkin kita dapat memahami fenomena gerakan mahasiswa yang cenderung menjadi anarkis akhir-akhir ini.

 

Sekilas realitas kondisi Bangsa

Lebih dari setengah Abad Bangsa ini berdiri akan tetapi Indonesia masih jauh dari cita-cita luhur proklamasinya, menjadi bangsa yang berdaulat, cerdas dan sejahtera. Demikian peliknya permasalahan bangsa ini dari masalah birokrasi di sistem pemerintahan hingga ke permasalahan moral penyelenggara Negara, dari masalah ekonomi hingga masalah rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Setiap hari kita melihat potret kemiskinan ditayangkan dimedia massa. Indeks korupsi dinegara ini tetap saja tinggi, lembaga-lembaga dan Instansi pemeintah tidak ada yang bebas dari praktek ini, bahkan LSM pun tidak luput dari kecurigaan. Indeks kemiskinan sapai saat ini masih saja tinggi, tingkat pengangguran dari hari-kehari yang juga semakin meningkat, sementara angka penjualan barang-barang mewah tetap saja meningkat dari hari ke hari. Angka kriminalitas yang semakin tinggi justru melambungkan rating penyaran acara-acara kriminal di televisi. Maraknya tayangan sinetron-sinetron di televisi Indonesia yang menjual mimpi dengan menayangkan berbagai kemewahan hidup bersamaan dengan acara-acara infotainment yang juga mengekspose kesejahteraan artis-artis sinetron Indonesia. Penganiayaan dan pelecehan seksual terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negri di beritakan setiap hari, namun animo masyarakat untuk menjadi tenaga kerja di luar negri masih saja besar, sementara tidak ada solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Siapa yang dapat disalahkan dengan kondisi ini? Jika kita menyalahkan pemerintah, Pemerintah yang mana? Alih-alih kita dapat melacak akar permasalahannya dengan mencari siapa yang salah, kita malah terjebak dalam lingkaran setan saling menyalahkan.

Gerakan Kultural

Kembali pada gerakan mahasiswa, melihat kondisi tersebut maka mahasiswa perlu meninjau kembali gerakan-gerakanya. Bahkan sudah saatnya setiap elemen mahasiswa me reset kembali gerakan-gerakannya, yah, tentu saja jika gerakan mahasiswa tersebut memang merupakan gerakan moral yang mengharapkan perbaikan pada kondisi masyarakat.

Gerakan mahasiswa tidak berarti selalu harus gerakan yang berhadapan langsung vis-a-vis dengan suatu rezim yang berkuasa. Gerakan mahasiswa memiliki makna yang jauh lebih luas daripada itu. Gerakan mahasiswa juga seharusnya menyentuh sisi kehidupan sosio-kultur masyarakat jika kita tetap berpegang pada stigma bahwa mahasiswa adalah agen peubah

Pergerakan Kultural merupakan gerakan yang terjun langsung ke masyarakat sehingga masyarakat akan jauh lebih berdaya atau kalau boleh dapat juga disebut dengan people power. Dengan demikian masyarakat diharapkan akan memilki haknya untuk lebih berdaulat. Memang ini bukan suatu hal yang mudah karena berhubungan dengan menyadarkan tiap-tiap individu di masyarakat untuk sadar akan hak-haknya sebagai warga negara, bahkan untuk sadar akan kekuatan mereka sebagai warga negara, merekalah yang menentukan arah bangsa ini. Hal ini yang dimaksud dengan people power. Bukankah Mao ze dong memulai revolusinya dengan pemberdayaan para petani di China? Dimulai dari gerakan kultural ini pada akhirnya tentu saja akan mempengaruhi sistem birokrasi pemerintah. Political will masyarakat yang cerdas tentu saja akan membuat pemerintah tidak dapat semena-mena dalam mengeluarkan kebijakannya. Pada intinya gerakan ini adalah gerakan yang bersifat bottom up.

Mungkin kita perlu meninjau kembali pemahaman kita mengenai aksi mahasiswa. Apakah aksi harus diinterpretasikan dengan demonstrasi yang represif? Seharusnya aksi mahasiswa juga meliputi model pembangunan masyarakat yang sistematis oleh mahasiswa. Dengan demikian diharapkan kita dapat melihat mahasiswa mampu menetukan arah pergerakan, model pergerakan ke masyarakat, alternatif solusi di berbagai bidang. Sehingga rekan-rekan mahasiswa tidak perlu frustasi lagi ketika aksi-aksi mereka tidak mendapat publisitas dimedia, dan terutama masyarakat tidak lagi dirugikan dengan aksi-aksi mahasiswa.